Selasa, 03 Juni 2025

Cerita Dewasa : Apem Lumer untuk Sang Manager dari Pembantu Setia


 "Apem Lumer untuk Sang Manager dari Pembantu Setia"


Pak Darman, seorang manager paruh baya yang mapan, hidup sendirian di rumah mewahnya. Usianya sudah kepala lima, tapi penampilannya tetap rapi, berkharisma, dan selalu wangi.


Setelah bercerai belasan tahun lalu, ia hanya ditemani Bu Ratmi, pembantu rumah tangganya yang setia. Bu Ratmi sudah bekerja selama 20 tahun di rumah itu. Meskipun usianya 45 tahun, Bu Ratmi masih tampak cantik dengan pipi bulat merona dan tubuh yang tetap montok. Apalagi kebaya yang selalu dikenakannya, menjadikan pesonanya sulit diabaikan.


Suatu sore, Pak Darman pulang dengan wajah penuh penat. Hari itu kantornya penuh tekanan: jadwal rapat yang bertumpuk, klien yang rewel, dan bos besar yang suka marah-marah. Ia masuk rumah, melepas dasi, dan duduk di sofa ruang tengah dengan napas berat.


Dari sudut ruangan, terlihat Bu Ratmi sedang menyapu lantai ruang makan dengan lenggak-lenggok santai, seperti model di atas catwalk. Gerakannya membuat kebaya yang dikenakan terlihat pas di tubuhnya. Tak hanya itu, tatapan matanya yang kadang melirik genit ke arah Pak Darman semakin menarik perhatian sang manager.


Pak Darman tersenyum kecil. “Bu Ratmi, malam ini saya ingin sesuatu yang spesial. Tolong siapkan apem lumer isi saus keju, ya. Bawa ke kamar saya nanti malam,” katanya dengan nada datar namun penuh makna.


Bu Ratmi yang memang terbiasa melayani tanpa banyak bertanya langsung menjawab, “Baik, Pak. Saya akan buatkan apem lumer paling enak untuk Bapak.”


Menjelang tengah malam, Bu Ratmi mengetuk pintu kamar Pak Darman sambil membawa piring besar berisi apem lumer yang baru matang. Wangi keju menyeruak di udara.


“Ini apemnya, Pak. Hangat dan lumer seperti yang Bapak minta,” kata Bu Ratmi sambil tersenyum.

Namun, reaksi Pak Darman di luar dugaan. Ia menatap piring itu dengan kesal. “Bu Ratmi, bukan ini maksud saya! Bawa keluar! Saya sudah terlalu capek untuk menjelaskan sekarang.” serunya sambil melambaikan tangan.


Bu Ratmi bingung, tapi tak berani bertanya. Ia pun keluar dengan perasaan tak enak.


Keesokan malamnya, Pak Darman kembali meminta hal yang sama. “Bu Ratmi, bawakan apem lumer ke kamar saya. Pastikan kali ini benar-benar sesuai permintaan saya,” katanya dengan nada lebih tegas.


Bu Ratmi merasa bersalah atas kejadian malam sebelumnya. Ia pun bergegas menyiapkan sepiring besar apem lumer dengan saus keju lebih banyak dan tampilan yang lebih menggoda.

Namun, lagi-lagi, begitu ia masuk ke kamar dan menyajikan apem itu, Pak Darman tampak kecewa. “Astaga, Bu Ratmi! Sampai kapan Anda tidak mengerti? Saya bilang apem lumer, bukan ini!”


Dengan wajah penuh kebingungan, Bu Ratmi kembali membawa keluar piring itu. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang dimaksud dengan apem lumer?


Pagi harinya, Bu Ratmi bertemu dengan Bu Ning, pembantu rumah tetangga, saat membuang sampah di depan pagar. Melihat wajah Bu Ratmi yang murung, Bu Ning bertanya, “Bu Ratmi, kok murung banget? Ada masalah?”


Bu Ratmi menghela napas. “Majikan saya marah-marah terus, Bu. Dua malam ini dia minta saya bawakan apem lumer ke kamarnya, tapi begitu saya bawa, dia malah kesal. Padahal saya sudah buat apem terbaik saya.”

Mendengar cerita itu, Bu Ning mendadak tertawa geli. Wajahnya memerah, dan ia menutup mulutnya dengan tangan.


“Ada apa, Bu Ning? Kok malah ketawa?” tanya Bu Ratmi penasaran.


“Bu Ratmi,” bisik Bu Ning malu-malu. “Maksud majikan Ibu itu bukan apem di piring, tapi apem yang… itu lho…”


Bu Ning menjelaskan dengan berbisik panjang lebar, hingga wajah Bu Ratmi ikut merah padam. Mereka tertawa kecil bersama, sambil merasa geli dengan permintaan aneh majikan masing-masing. “Astaga, Bu Ning! Kalau begitu, kenapa Pak Darman nggak ngomong jelas dari awal?”


“Maklum, Bu Ratmi. Bos-bos itu kadang suka berbasa-basi. Majikan saya juga begitu." kata Bu Ning sambil tertawa kecil. “Tapi dia bilangnya bukan apem lumer. Dia nyebutnya serabi lempit.”


Malam itu, Bu Ratmi memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Ia mengenakan kebaya terbaiknya, menata rambutnya dengan rapi, dan memastikan apemnya dalam kondisi prima—tanpa piring, tanpa keju.


Setelah mengetuk pintu kamar Pak Darman, ia masuk dengan percaya diri. Pak Darman menoleh, dan untuk pertama kalinya, ia terlihat puas.


“Bu Ratmi, akhirnya Anda paham juga,” kata Pak Darman dengan senyum lebar.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara Pak Darman berseru dari dalam kamar, “Wah, apem ini tebal, empuk, dan gurih! Pas banget dengan yang saya mau!”


Bu Ratmi pun tertawa kecil. “Terima kasih, Pak. Saya cuma ingin jadi pembantu yang baik untuk Bapak.”


Sejak malam itu, hubungan Pak Darman dan Bu Ratmi jadi lebih hangat. Pak Darman tak lagi penat sepulang kerja, karena selalu ada apem lumer spesial yang menunggunya di rumah. Bu Ratmi pun merasa bangga karena akhirnya bisa memahami dan melayani keinginan majikannya. Bahkan, Bu Ratmi terlihat lebih semangat bekerja, dengan kebaya yang lebih berwarna dan senyum yang selalu merekah.


Kisah mereka menjadi rahasia kecil di rumah mewah itu, sementara rekan kerjanya hanya bisa menebak-nebak kenapa Pak Darman kini selalu terlihat lebih bahagia dan jarang mengeluh soal pekerjaan. Sedangkan Ratmi semakin rajin berdandan. Hubungan mereka menjadi lebih hangat, meskipun semuanya tetap terjaga rapi tanpa seorang pun tetangga tahu.


Dan setiap kali mereka mendengar tawa dari dalam rumah Pak Darman, tetangga sebelahnya dan Bu Ning hanya bisa saling tersenyum, membatin, “Ah, pasti apem lumer lagi…”


Cerita Dewasa : Burung Conty yang Kesepian

 "Burung Conty yang Kesepian"


Di sebuah desa kecil yang tenang, hiduplah seorang perjaka tua bernama Pak Siman. Walaupun usianya sudah lebih dari setengah abad, Pak Siman tetap semangat menjalani hari-harinya. Tinggal di rumah kecil dengan kebun samping yang subur, Pak Siman menjalani hidupnya sederhana sebagai petani. Namun, ada satu hal yang membuatnya begitu terkenal di kampung itu: burung kesayangannya yang bernama Conty.


Burung Conty bukan burung biasa. Tubuhnya besar, hitam legam, berotot, dan gagah perkasa. Setiap kali Pak Siman membawa Conty keluar rumah—entah ke sawah, ke pasar, atau bahkan saat mandi di sun
gai—semua mata pasti tertuju padanya, terutama mata ibu-ibu tetangga.

Bahkan, saking gagahnya, ibu-ibu tetangga di kampung sering memuji-muji burung itu, bahkan sampai terlihat "gatal" kalau melihat Conty.


"Astaga, Pak Siman. Itu Conty bikin gemes, deh. Gagah banget!" kata Bu Sri, tetangga yang tiap pagi nyelonong ke halaman rumah Pak Siman.


“Iya, Bu. Kok bisa ya burungnya segagah itu? Apalagi kalau dilihat dekat-dekat. Bikin gemes!” timpal Bu Sarmi, yang ikut-ikutan mencuri pandang setiap kali Pak Siman lewat.


"Iya, ya. Pengen pegang, tapi malu!" celetuk Bu Siti, sambil cekikikan dengan ibu-ibu lainnya.

Pak Siman hanya terkekeh, mengelus Conty yang selalu nangkring gagah di bawah perutnya. “Ya begitulah, Bu. Namanya juga burung kesayangan,” ujarnya bangga.


Ibu-ibu pun semakin penasaran dengan Conty. Tiap sore, mereka berdatangan ke rumah Pak Siman, pura-pura ingin meminta cabe atau bertanya soal panen. Padahal, ujung-ujungnya cuma mau melihat aksi gagah Conty yang selalu dibawa ke sana kemari.


Namun, beberapa minggu belakangan, ada yang aneh. Setiap malam, Pak Siman tidak bisa tidur nyenyak. Ia merasa tubuhnya geli-geli dari perut hingga paha, seperti ada yang menggelitik. Paginya, ia bangun dengan wajah bingung. Lebih parahnya lagi, Conty terlihat lemas dan di ujung paruhnya selalu ada bekas muntahan putih.


"Lho, Conty, kamu kenapa? Kok pagi-pagi udah letoy?" gumam Pak Siman heran sambil mengelus kepala burungnya.


Burung Conty cuma diam tidak merespon sentuhan Pak Siman, seperti kehabisan energi. Hal ini berlangsung berhari-hari. Sementara itu, ibu-ibu di kampung justru terlihat semakin gemas. Mereka jadi lebih sering mampir ke rumah Pak Siman, sengaja melihat-lihat si Conty. Mereka lebih sering berdatangan, memuji-muji Conty, bahkan menyentuhnya diam-diam saat Pak Rono lengah.


“Burungnya makin lemes, ya? Jangan-jangan butuh perhatian lebih, Pak Siman,” goda Bu Sri.

Pak Siman mulai bingung. Ibu-ibu ini kok makin aneh?

Hingga suatu pagi yang cerah, suasana kampung mendadak geger. Sekelompok bapak-bapak kampung datang menggeruduk rumah Pak Siman dengan wajah penuh amarah. Pak Karyo, pemimpin rombongan, mengetuk pintu keras-keras.


“Pak Siman! Keluar kau!” teriaknya.


Pak Siman keluar dengan wajah bingung. “Ada apa ini, Pak? Kok ramai-ramai ke rumah saya?”


“Sudah cukup! Kami protes! Burung Conty nggak boleh lagi dipamer-pamerin di kampung ini!” seru Pak Karyo sambil menunjuk-nunjuk Conty yang bertengger lemas di pundak Pak Siman.


“Iya, Pak! Gara-gara Conty, istri-istri kami jadi lupa pulang! Setiap sore mereka nongkrongin Conty di sini!” tambah Pak Bejo.


“Sudah cukup, Pak! Kami nggak terima!” seru Pak Karyo. “Gara-gara burung Conty itu, istri-istri kami jadi lupa pulang, lupa masak, bahkan lupa ngurusin kami!”

“Bener, Pak! Istri saya tiap sore nongkrong di sini! Katanya, mau lihat Conty. Tapi balik-balik malah senyum-senyum sendiri,” tambah Pak Bejo sambil mengusap kepalanya yang botak.


Pak Siman semakin bingung. Burung kesayangannya dianggap sumber masalah? Namun, karena takut keributan makin besar, ia akhirnya setuju. “Baiklah, Pak. Mulai sekarang Conty nggak akan saya bawa keluar rumah lagi.”

Merasa stres dengan situasi yang makin aneh, Pak Siman memutuskan pergi keluar desa mencari udara segar. Ia duduk-duduk di dekat pasar tradisional, seperti biasa membawa Conty di balik celananya.


Saat itulah seorang pria makelar mendekatinya. “Pak, kenapa wajahnya murung? Ada masalah?” tanyanya ramah.


Pak Siman pun menceritakan masalahnya, dari geli-geli saat tidur, Conty yang lemas, hingga protes bapak-bapak tetangga.


Pria makelar mengangguk bijak, lalu berkata, “Pak, masalahnya jelas. Burung Conty itu butuh teman setia, yang bisa menemaninya tidur dengan nyaman.”

“Lho, teman setia? maksudnya?” tanya Pak Siman heran.


“Ada yang cocok untuk Conty. Sapi betina,” jawab si makelar mantap.


Pria makelar itu membawa Pak Siman ke tempat penjualan sapi di pasar. Di sana, ia menunjuk seekor sapi betina berwarna putih, montok, dan memiliki ambing besar.


“Nah, ini dia, Pak. Namanya Sapiawati. Umurnya masih muda, sekitar 20 tahunan. Montok, besar, empuk. Pas buat Conty!” ujarnya.


Pak Siman memandang Sapiawati dengan takjub. “Mantap juga, ya.”

“Kalau nggak percaya, coba dulu, Pak. Ada bilik di belakang buat mengetes kecocokan Conty dengan Sapiawati,” kata si makelar.


Pak Siman membawa Conty dan Sapiawati ke dalam bilik. Tak lama, terdengar suara teriakan dari dalam. “Wah! Conty suka sama Sapiawati! Hangat, besar, dan empuk!” seru Pak Siman penuh semangat.


Pak Siman akhirnya membawa pulang Sapiawati. Setibanya di kampung, ia tak lagi membawa Conty keluar rumah. Burung Conty kini lebih betah di dalam rumah, menghabiskan waktu bersama Sapiawati.


Bahkan, malam-malam Pak Siman kembali nyenyak. Kadang terdengar teriakan puas dari dalam rumah, “Ah, Sapiawati, kamu memang luar biasa!”


Suasana kampung pun kembali tenang. Ibu-ibu tak lagi heboh datang ke rumah Pak Siman, dan bapak-bapak bisa tidur nyenyak tanpa harus curiga.


Kini, burung Conty hidup bahagia bersama Sapiawati, dan Pak Siman pun berkata dengan senyum lebar, “Untung ada Sapiawati. Kalau nggak, Conty bisa makin letoy!”


Dan begitulah, kisah Pak Siman dan burung Conty berakhir dengan damai. Kampung kembali tentram, dan semua orang belajar bahwa terkadang solusi datang dari tempat yang tak disangka-sangka.


Cerita Dewasa : Serabi Lempit dan Kisah Malam yang Penuh Liku

 


Serabi Lempit dan Kisah Malam yang Penuh Liku


Petang itu, Pak Bejo duduk di ujung ranjang sambil memandang ke luar jendela. Angin sore yang dingin berhembus pelan, dan aroma khas senja menyeruak di udara.


Di sudut kamar, Bu Bejo dengan penuh kasih dan perhatian datang dengan penuh semangat menawarkan serabi lempitnya untuk petang ini.


“Pak, ini serabi lempit punyaku. Masih hangat, lho. Cocok buat sore-sore begini.” ujar Bu Bejo sambil tersenyum manis. Pak Joko duduk di tepi ranjang dengan wajah sedikit bingung. Di hadapannya, istrinya, Bu Joko,


Pak Joko menatap serabi lempit istrinya itu dengan ragu. Pengalaman sebelumnya membuatnya berpikir dua kali. Tapi, demi menghargai istrinya, ia mulai mencobanya pelan-pelan.


Setelah beberapa menit, Pak Joko malah bangkit dari ranjang. Wajahnya berubah. “Bu, ini kok serabinya terlalu tebal, ya? Kering lagi. Waktu merasakan lipatan serabinya, rasanya kayak dikunyah sandal jepit,” keluhnya sambil mencoba tersenyum tipis.


“Ya ampun, Pak. Udah capek-capek menyenangkan, kok dibilang gitu,” jawab Bu Joko dengan wajah merengut.

Pak Joko mencoba melunakkan suasana. “Bukannya aku nggak suka, Bu. Cuma... ya, aku jadi kepikiran. Mungkin di luar sana ada serabi lempit yang lebih pas buat seleraku.”


“Kalau gitu cari aja sana! Lihat aja kalau nggak ada yang lebih enak dari punyaku,” sahut Bu Joko sambil melipat tangan di dada.


Merasa tertantang, Pak Joko akhirnya memutuskan keluar rumah. Ia menaiki motornya dan meluncur ke kawasan warung pinggir jalan dekat garasi truk besar yang terkenal dengan jajanan serabi lempitnya.


Di sana, Pak Joko mendapati berbagai warung berjejer dengan papan tulisan yang menawarkan serabi lempit berbagai rasa dan bentuk. Ia berjalan pelan, memandangi satu per satu warung, hingga di salah satu warung, seorang ibu-ibu cantik dengan rambut terurai menyapanya, “Mas, cari serabi lempit, ya? Cobain punya saya. Masuk ke dalam, lebih nyaman di kamar.”


Pak Joko, yang tak sabar dan penasaran, langsung masuk ke dalam warung kecil itu. Si ibu menyajikan serabi lempit dengan aroma wangi dan bentuk yang menggoda. Pak Joko mencicipinya dengan harapan besar. Namun, wajahnya berubah lagi setelah beberapa kali jepitan.

“Bu, ini kok terlalu berair, ya? Lembek banget, terus tipis juga. Jadi susah nikmatinnya,” keluh Pak Joko dengan sopan.


“Yah, selera orang beda-beda, Mas. Tapi pelanggan saya biasanya suka,” jawab si ibu sambil tertawa kecil.

Pak Joko membayar dengan berat hati dan melanjutkan pencariannya.


Tak jauh dari sana, ia menemukan warung lain yang dikelola seorang perempuan muda dengan senyum yang penuh percaya diri.


“Mas, cobain serabi lempit saya. Ini spesial, Mas. Langsung bikin puas!” katanya.


Pak Joko, yang semakin penasaran, kembali masuk. Setelah beberapa menit, ia mencoba serabi lempit yang tampak menggoda bentuk luarnya. Namun, lagi-lagi, ia kecewa.


“Waduh, ini kok kelihatan gosong, Mbak? Lipatan serabinya terlalu kering juga. Serabinya malah jadi keras kayak kerupuk,” kata Pak Joko sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Mbak penjual hanya tersenyum simpul. “Oh, mungkin Mas lebih cocok sama yang lain.”


Pak Joko keluar dengan perasaan lelah. Uang di sakunya sudah menipis, tapi belum ada yang memuaskan. Ia memutuskan mencoba satu warung terakhir sebelum menyerah.


Di warung kecil itu, seorang ibu paruh baya menyapanya dengan ramah. “Mas, serabi lempit saya ini sederhana nggak banyak dipoles, tapi banyak yang bilang rasanya pas. Cobain, ya.”

Pak Joko disuguhi serabi lempitnya dan mencicipinya dengan penuh harapan. Kali ini, senyumnya merekah.

“Wah, ini dia! Tebal, empuk, gurih, dan nggak terlalu lembek. Pas banget buat saya,” serunya dengan puas.

Namun, karena terlalu enak, Pak Joko pun melumat serabi itu dalam sekejap saja. Ia merasa senang, tapi ada sedikit penyesalan karena kenikmatannya tak berlangsung lama.


Dalam perjalanan pulang, Pak Joko merenung. “Kayaknya aku terlalu keras sama istriku. Serabi lempit dia memang nggak sempurna, tapi rasanya nggak buruk. Lagian, serabi lempitnya penuh dengan bumbu cinta.”

Setibanya di rumah, ia mendapati Bu Joko masih duduk di ruang tamu dengan wajah cemberut. Pak Joko mendekatinya dan tersenyum.


“Bu, tadi aku keliling cari serabi lempit lain. Ada yang enak, tapi nggak ada yang bikin aku kangen seperti punya kamu. Ternyata aku cuma cocok sama punyamu.”

Bu Joko melirik suaminya dengan mata menyipit. “Halah, bohong kamu, Pak.”


Pak Joko tertawa dan menarik istrinya ke kamar. “Ayolah, Bu. Aku mau coba serabi lempit kamu lagi. Kali ini aku pasti menikmatinya.”


Dengan perasaan lega, Bu Joko menyajikan serabi lempit itu di ranjang mereka. Pak Joko melumatnya penuh semangat. “Ini dia! Tebal, empuk, meski butuh usaha ekstra, tapi aku puas banget!” serunya sambil tertawa.

Suara tawa dan seruan Pak Joko terdengar sampai ke tetangga sebelah. Tetangga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Ah, si Pak Joko dan serabi lempitnya. Ada-ada saja!”


Minggu, 01 Juni 2025

Cerita Dewasa : Risol Mayo, Apem Lumer dan Kekacauan di Dusun SukaRasa


 "Risol Mayo, Apem Lumer dan Kekacauan di Dusun SukaRasa"


Di suatu dusun kecil yang damai, hiduplah sepasang suami istri bernama Pak Mardi dan Bu Sumi. Mereka memiliki usaha kecil-kecilan, yaitu warung risol mayo yang buka dari sore hingga malam di depan rumah mereka.


Awalnya, risol mayo mereka biasa-biasa saja—berbentuk standar, berbalut roti panir, dan diisi sosis kecil dengan mayonaise secukupnya. Meski enak, dagangan mereka kurang laku.


Pak Mardi mulai resah. Bahkan membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama di atas ranjang.

“Bu, kalau begini terus kita nggak bakal bisa nabung buat beli kulkas baru,” keluh Pak Mardi sambil menghitung receh hasil jualan hari itu.


“Kita harus sabar, Pak. Mungkin besok laku lebih banyak,” jawab Bu Sumi optimis meski dalam hati ikut gusar.


Namun, Pak Mardi tak ingin hanya menunggu keberuntungan. Malam itu, setelah Bu Sumi tidur, ia mulai bereksperimen. Ia menciptakan Risol Mayo Spesial Rahasia. Risol itu tidak seperti biasanya: ukurannya lebih besar dan lonjong, tanpa roti panir, dengan potongan sosis tebal di dalamnya. Tidak hanya itu, Pak Mardi menambahkan banyak mayonaise putih kental hingga meluber saat ditekan-tekan.

Keesokan harinya, Pak Mardi diam-diam menjual risol mayo spesial itu tanpa memberitahu istrinya. Anehnya, risol tersebut langsung laris manis. Namun, ada kejanggalan: yang membeli hanya ibu-ibu.


"Pak Mardi, boleh pesen satu risol mayo spesial lagi?" tanya Bu Nur, seorang pelanggan setia, sambil senyum-senyum genit.


"Tapi ingat, Bu, nggak boleh dibawa pulang ya. Dinikmati di sini aja," tegas Pak Mardi, sambil menunjuk ke arah sebuah bilik kecil di sebelah warungnya.


“Wah, enak banget, Pak! Gurih, puas banget. Mayonaisenya tuh, ya ampun, bikin nggak mau berhenti!” ujar Bu Nur dengan mata berbinar-binar.

Ibu-ibu lain yang mendengar komentar Bu Nur langsung ikut menyerbu warung Pak Mardi. Mereka antre panjang setiap sore. Akibatnya, para ibu-ibu itu jarang pulang ke rumah. Suami mereka mulai kesal karena istri-istri mereka jadi tak perhatian dan malas melayani kebutuhan rumah.


Di sisi lain, Bu Sumi mulai curiga. Ia heran melihat suaminya diam-diam sukses menjual risol mayo spesial yang hanya dipesan ibu-ibu. Ia mulai jengkel, apalagi saat mendengar desas-desus dari para bapak-bapak.

"Bu, gara-gara risol suamimu itu, istri-istri kami sekarang nggak peduli sama kami lagi! Gimana nih?" protes Pak Karto, salah satu warga.


Bu Sumi pun merasa perlu membalas keadaan ini. Ia berpikir keras, hingga akhirnya menemukan ide membuat Apem Tebal Lumer Spesial. Apem itu berbeda dari biasanya, lebih tebal dengan keju cair gurih di tengahnya yang meleleh saat dibuka. Malam itu, ia memulai debut apem spesialnya.


Ternyata, ide itu sukses besar. Para bapak-bapak langsung menyerbu warung Bu Sumi.


“Bu Sumi, apemnya bikin nagih banget! Tebalnya pas, kejunya lumer. Sungguh luar biasa!” puji Pak Karto sambil menyeruput teh manis.


Bu Sumi pun memberikan aturan yang sama seperti suaminya: apem lumer hanya boleh dimakan di tempat, tepatnya di sebuah garasi yang tidak terpakai di rumahnya. Kini giliran para bapak-bapak yang tidak kunjung pulang ke rumah.


Karena risol mayo spesial dan apem lumer ini, suasana dusun menjadi kacau. Para ibu-ibu dan bapak-bapak saling tidak akur. Ibu-ibu sibuk memburu risol mayo di warung Pak Mardi, sementara bapak-bapak betah nongkrong menikmati apem lumer Bu Sumi.


“Lihat tuh, Bu! Ibu juga bikin kacau dusun. Sama aja!” ujar Pak Mardi saat Bu Sumi memprotes risol spesialnya.


“Ya abis gimana? Ini kan karena risol anehmu itu!” sahut Bu Sumi kesal.

Akhirnya, mereka sadar bahwa masalah ini harus diselesaikan. Suami istri itu memutuskan menutup warung sementara. Mereka ingin mencari tahu kenapa kue spesial mereka bisa membuat warga dusun begitu tergila-gila.


Malam itu, di kamar mereka, Pak Mardi dan Bu Sumi berbicara empat mata.


“Pak, aku pengen tahu, apa sih yang bikin risol mayomu itu spesial?” tanya Bu Sumi sambil menatap suaminya tajam.


“Yaudah, kamu juga kasih tahu apem spesialmu itu kenapa bisa bikin para bapak-bapak gila,” balas Pak Mardi.


Akhirnya, mereka saling menunjukkan resep rahasia masing-masing.


“Lho, ini... kan cuma sosis besar sama mayonaise punyamu sendiri Pak?” tanya Bu Sumi sambil tertawa.

“Dan apem lumer kamu itu, ya ampun... itu cuma keju cair biasa yang biasa keluar dari apem punyamu!” sahut Pak Mardi sambil mengusap wajahnya.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak di kamar. “Kenapa ya warga dusun malah mengincar ini, padahal mereka punya hal yang sama di rumah masing-masing?” gumam Pak Mardi.


Dari luar, para bapak-bapak dan ibu-ibu yang menguping percakapan itu saling bertukar pandang. Mereka tersadar bahwa apa yang mereka cari-cari ternyata sudah ada di rumah masing-masing. Mereka pun bubar dan kembali ke rumah.


Sementara itu, dari dalam kamar Pak Mardi dan Bu Sumi, terdengar tawa kecil yang diselingi rayuan. “Bu, ternyata apem lumer kamu lebih gurih kalau dinikmati berdua seperti ini.”


“Pak, risol mayo kamu ternyata juga enak kalau aku yang nikmatin sendiri.” sahut Bu Sumi sambil tertawa geli.


Dusun yang sempat kacau itu akhirnya kembali damai. Pak Mardi dan Bu Sumi pun menutup resep spesial mereka, cukup untuk dinikmati berdua di rumah.

Kamis, 29 Mei 2025

Cerita Dewasa : Buah Spesial Para Istri Penjual Buah


 Buah Spesial Para Istri Penjual Buah


Di sebuah jalan kecil yang ramai oleh pedagang dan pembeli, ada dua tenda buah yang berdiri berdampingan. Di tenda pertama, ada Pak Udin, penjual buah yang terkenal dengan kumis lebatnya yang sering membuat anak-anak takut. Di tenda sebelahnya, ada Pak Slamet, penjual buah dengan perut buncit yang selalu memakai topi miring seperti mau bertanding tinju.


Mereka sudah berjualan bertahun-tahun, tapi entah kenapa, setiap hari selalu saja ribut soal siapa yang lebih hebat. Masalahnya? Mereka menjual buah-buahan yang sama! Dari mangga, jeruk, apel, sampai durian. Tapi yang bikin mereka makin sering adu mulut adalah "buah spesial" yang mereka bawa dari rumah.


Buah spesial ini bukan sembarang buah. Istri mereka masing-masing yang membawa buah itu setiap pagi, dan keduanya selalu mengklaim bahwa buah spesial dari istri mereka adalah yang terbaik khusus untuk pelanggan setia mereka.


Buah spesial istri Pak Udin berbentuk bulat besar seperti melon. "Lihat tuh, bulat sempurna, segar, dan berat! Pelanggan saya pasti lebih suka buah ini," kata Pak Udin penuh percaya diri.


Sedangkan buah spesial istri Pak Slamet berbentuk lonjong dan oval seperti pepaya. "Pak Udin, buah istri saya ini lebih lonjong, elegan, dan teksturnya lembut. Buah ini cocok buat siapa saja!"

Dan begitulah, setiap hari argumen mereka semakin membara.


Hari itu, matahari menyengat dan saat sepi pembeli. Pak Udin sedang mengatur semangka di tendanya ketika Pak Slamet, yang baru saja tiba, memamerkan dua buah spesial istrinya dengan penuh gaya.


Pak Udin melirik sekilas. "Pak Slamet, sampean yakin pelanggan mau beli buah itu? Bentuknya kayak nggak yakin mau jadi buah."


Pak Slamet langsung menoleh. "Astaga, Pak Udin! Buah istri sampean itu memang besar, tapi besar doang, isinya pasti biasa aja."


Pak Udin mendengus. "Biasa gimana? Buah istri saya itu berkualitas! Pelanggan setia saya selalu balik lagi."


Pak Slamet tertawa kecil. "Balik lagi karena mereka lupa rasa buahnya, Pak. Kalau makan buah istri saya, sekali coba langsung ingat selamanya."


Adu mulut mereka makin panas. Bahkan istri mereka mengeluh dan berbisik, "Ya ampun, penjual buah kok berantem kayak anak TK."


Di tengah keributan itu, istri mereka masing-masing datang mendekat. Bu Siti, istri Pak Udin, adalah wanita yang selalu sabar, tapi hari itu wajahnya sudah merah. Sementara Bu Lastri, istri Pak Slamet, terlihat menahan tawa melihat tingkah suaminya.

"Pak Udin, Pak Slamet, sudah cukup ributnya! Kalau memang kalian berdua nggak berhenti, kenapa nggak coba aja buah spesial dari istri masing-masing?" kata Bu Siti.


Pak Slamet langsung menyahut. "Nah, betul itu, Bu Siti. Tapi kalau Pak Udin coba buah istri saya, dia harus ngaku kalau buah saya lebih enak!"


Bu Lastri menimpali. "Kalau begitu, Pak Slamet juga harus coba buah istri Pak Udin dan ngomong yang jujur."


Kedua pria itu saling pandang dengan mata menyipit. Awalnya mereka ragu, tapi karena gengsi, akhirnya mereka setuju.


Pak Udin memulai lebih dulu. Dengan perasaan campur aduk, ia memegang salah satu buah spesial milik istri Pak Slamet yang lonjong dan oval. Ia memegangnya dengan hati-hati, lalu mencicipi teksturnya langsung.

Begitu ia mencoba, ekspresi wajahnya berubah. "Wah, Pak Slamet, buah ini kenyal banget! Teksturnya lembut di lidah. Saya akui, ini enak!"


Pak Slamet tersenyum puas. "Tuh, kan! Saya bilang juga apa, Pak Udin. Buah istri saya memang juara."


Sekarang giliran Pak Slamet. Ia juga memegang salah satu buah spesial milik istri Pak Udin yang bulat besar seperti melon. Ia mengamatinya sebentar, lalu mencicipinya dengan hati-hati. Wajahnya sempat terdiam, membuat Pak Udin menunggu dengan cemas.

"Pak Udin," kata Pak Slamet akhirnya, "buah ini... teksturnya memang lebih kaku. Tapi begitu masuk di mulut, rasanya kok nagih ya? Empuknya pas, ada sedikit sensasi gurih. Saya jadi nggak bisa berhenti nyicip!"


Pak Udin tersenyum lebar. "Tuh, kan! Saya bilang juga apa, Pak Slamet. Buah istri saya memang beda."


Setelah mencicipi buah spesial dari istri masing-masing, kedua penjual itu akhirnya sepakat bahwa kedua buah spesial milik istri mereka itu sama-sama hebat. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Mereka akhirnya saling memuji dengan tulus.


"Pak Slamet, buah istri sampean memang enak. Pelanggan pasti suka," kata Pak Udin sambil menjabat tangan temannya.


"Pak Udin, buah istri sampean juga nggak kalah. Rasanya bikin ketagihan," balas Pak Slamet sambil tersenyum.


Sebagai simbol perdamaian, mereka bahkan saling membayar usai buah spesial dari istri masing-masing dicicipi.


Namun, cerita belum selesai sampai di situ. Bu Siti dan Bu Lastri punya rencana lanjutan. Mereka memutuskan untuk masing-masing membawakan langsung buah spesial mereka ke tenda suami yang lain, sebagai tanda rekonsiliasi.


Bu Siti datang ke tenda Pak Slamet sambil membawa buah miliknya yang lonjong itu. "Pak Slamet, ini buah punya saya, biar Bapak bisa nikmatin lagi," katanya dengan senyum lebar.


Tak lama kemudian, Bu Lastri muncul di tenda Pak Udin sambil membawa buahnya yang bulat. "Pak Udin, ini buah spesial dari saya. Semoga makin suka!"


Pak Udin dan Pak Slamet saling bertukar pandang, lalu tertawa lepas. Mereka kembali mencicipi 2 buah spesial itu dari lawan istri mereka, kali ini di belakang tenda masing-masing, tanpa ada pelanggan yang melihat.


"Hmm, Bu Lastri memang hebat. Buahnya ini benar-benar lembut dan kenyal," kata Pak Udin sambil menikmatinya.


Pak Slamet tak mau kalah. "Bu Siti juga jago! Buahnya yang segede melon ini gurih banget di mulut, saya nggak bisa berhenti nih."


Keduanya terus memuji buah-buahan itu, sampai terdengar dari depan tenda teriakan mereka, "Ini buah terenak yang pernah saya coba!"


Sejak saat itu, Pak Udin dan Pak Slamet berhenti bersaing. Mereka bahkan bekerja sama mempromosikan buah spesial masing-masing kepada pelanggan.

Tenda mereka jadi lebih ramai, dan hubungan mereka, yang dulu penuh persaingan, berubah jadi persahabatan yang erat—semuanya berkat "buah spesial" milik istri-istri mereka.


Cerita Dewasa : Dua Orang Duda dan Sapi Betina Mereka

 "Dua Orang Duda dan Sapi Betina Mereka"



Di sebuah desa kecil yang damai, ada dua lelaki duda yang rumahnya bersebelahan. Mereka adalah Pak Slamet dan Pak Kirno. Dua sahabat ini memiliki hobi unik untuk mengisi waktu luang—merawat sapi betina mereka. Sapi-sapi itu bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga hiburan sehari-hari.


Suatu sore yang cerah, keduanya duduk di teras masing-masing, sibuk memerah susu dari sapi mereka. Pak Slamet dengan Sapiatun, sapi betina yang putih bersih dan montok, sementara Pak Kirno dengan Sapirah, sapi betina yang bugar dan memiliki ambing besar yang sering membuat orang lain iri.


"Met, sapimu kok makin putih, ya? Kayak dimandiin terus tiap hari," ujar Pak Kirno sambil melirik Sapiatun.

Pak Slamet tersenyum bangga, "Iya, Kir. Ini hasil perawatan ekstra. Tiap pagi saya elus-elus dulu sebelum diperah. Sapimu juga enggak kalah, ya. Ambingnya besar sekali. Kalau jalan pasti bikin orang nengok."


Keduanya tertawa. Obrolan pun berlanjut dengan saling bertanya soal nama sapi mereka. "Nama sapimu siapa, Met?" tanya Pak Kirno.


"Sapiatun. Usianya memang sudah paruh baya, tapi produksinya enggak kalah sama sapi muda." jawab Pak Slamet. "Kalau punyamu?"


"Sapirah," jawab Pak Kirno sambil mengelus punggung sapinya. "Cantik, kan? Meski sudah paruh baya, dia masih bugar."


Pak Slamet mengangguk setuju. "Berapa usianya? Punyaku sudah sekitar 40 tahunan."


Pak Kirno mengelus ambing Sapirah sambil berpikir. "Sapirah ini paruh baya, sekitar 40 tahunan juga lah. Tapi walaupun tua, produksinya masih lumayan, lho, Pak. Kalau Sapiatun gimana?"


"Sama, Kir. Sapiatun juga 40-an. Tapi dia disiplin. Kalau saya perah malam hari, hasilnya malah lebih banyak. Mungkin dia suka suasana malam," kata Pak Slamet sambil tertawa kecil.


Pak Kirno tertawa. "Kalau Sapirah, saya harus sering-sering elus-elus dulu. Kalau enggak, dia suka mogok. Tapi kalau sudah nyaman, susunya keluar banyak."


Obrolan terus berlanjut hingga Pak Slamet mendapatkan ide. "Kir, gimana kalau kita saling mencicipi susu sapi masing-masing? Penasaran juga saya rasa susu Sapirah kayak apa."


"Setuju!" jawab Pak Kirno cepat. Keduanya pun menuangkan susu dari ember masing-masing ke dalam gelas dan saling bertukar.


Pak Slamet mencicipi susu Sapirah terlebih dahulu. "Hmm, gurih sih, tapi kurang manis. Sapirah perlu tambahan vitamin mungkin, Kir."

Pak Kirno mencoba susu Sapiatun dan tersenyum lebar. "Yang ini kental banget. Tapi agak asin, Met. Jangan-jangan kebanyakan dikasih garam?" Keduanya tertawa puas sambil terus mencicipi susu masing-masing.


"Met, susunya ini mau kamu buat apa?" tanya Pak Kirno.


"Biasanya saya minum sendiri. Buat kebugaran, Kir. Maklum, duda-duda kayak kita ini kan butuh stamina," jawab Pak Slamet sambil mengedipkan mata. "Kalau kamu?"


"Saya jual di pasar, Met. Tapi kalau kamu mau beli, saya kasih diskon spesial," jawab Pak Kirno sambil mengedipkan mata.


Setelah lama mengobrol, Pak Slamet kembali punya ide. "Kir, gimana kalau kita tukar sapi untuk beberapa hari? Biar mereka coba suasana baru. Siapa tahu jadi lebih produktif."


Pak Kirno mengangguk setuju. "Boleh, Met. Tapi jangan sampai Sapiatun betah di sini. Nanti saya susah balikin Sapirah ke kamu."


Keduanya sepakat menukar sapi malam itu. Mereka melontarkan pujian masing-masing. "Sapirah ini bersih dan montok. Terawat banget," kata Pak Slamet.


"Sapiatun juga luar biasa, Met. Ambingnya besar dan kelihatan selalu siap diperah," balas Pak Kirno.

Malam itu, tukar sapi resmi dilakukan. Sapiatun dipindahkan ke rumah Pak Kirno, sementara Sapirah masuk ke kandang Pak Slamet.


Malamnya, suara-suara dari kedua rumah mulai terdengar. "Sapirah ini beneran hebat, ya. Tenang banget, enggak banyak tingkah. Saya jadi gampang memerahnya," kata Pak Slamet sambil tertawa kecil dari dalam rumahnya.


Pak Kirno menjawab dari rumah sebelah. "Sapiatun juga luar biasa, Met. Dia penurut banget. Enggak ngambek sama sekali. Kayaknya cocok nih kalau sering-sering ditukar."


Tetangga di sebelah rumah hanya bisa mendengar percakapan mereka sambil tersenyum geli. Dua duda itu benar-benar bahagia dengan sapi "baru" mereka.

Pagi harinya, keduanya bertemu di teras masing-masing, membawa ember penuh susu.


"Kir, Sapirah ini benar-benar memuaskan. Rasanya enggak rugi kita tukar sapi," ujar Pak Slamet sambil tertawa lebar.


Pak Kirno mengangguk. "Sapiatun juga enggak kalah hebat, Met. Kalau mau tukar lagi, tinggal bilang aja."

Keduanya tertawa puas. Meski status duda tetap melekat, mereka menemukan cara sederhana untuk mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan melalui sapi betina kesayangan mereka.


Tukar sapi bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga mempererat persahabatan mereka.


Cerita Dewasa : Pijatan Sang Istri untuk Sang Pejuang Roda Tiga


 “Pijatan Sang Istri untuk Sang Pejuang Roda Tiga”


Matahari bersinar terik di langit siang, membuat aspal jalanan terasa seperti wajan penggorengan. Sunarto, seorang tukang becak di kampung, melaju pelan menuju rumahnya. Tubuhnya masih terasa bugar dan kuat, namun ada satu ototnya menjerit protes. Sesampainya di depan rumah kecilnya, ia menurunkan kakinya dari pedal becak dan mengeluh.


"Aduh, ototku yang satu ini rasanya harus dilemesin dulu." gumamnya sambil memarkir becak di teras.


Sunarto membuka pintu dan menemukan istrinya, Lastri, tengah sibuk menimang anak mereka yang sedang rewel. Dengan suara yang lelah, Sunarto berkata, "Bu, aku pulang dulu. Ototku lagi tegang. Pegal, ngilu-ngilu, rasanya mau meledak."


Lastri menoleh dengan ekspresi khawatir. "Lho, kok sudah pulang, Mas? Biasanya jam segini masih narik penumpang. Ada apa?"


Sunarto menurunkan tubuhnya ke lantai, mengambil sarung untuk menyeka keringatnya. "Tadi narik penumpang cantik ke pasar, lama-lama dilihat jadi nggak kuat. Kalau diterusin, bisa-bisa aku jatuh dari becak karena nggak konsen."


Lastri mengangguk paham, meletakkan anak mereka yang masih merengek ke tempat tidur. "Ya udah, Mas, tunggu sebentar. Aku tidurin si kecil dulu. Nanti aku pijetin."

Sunarto tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat lelah. Dalam hatinya, ia bersyukur memiliki istri yang selalu siaga.


Setelah beberapa menit, Lastri kembali dengan kain dan minyak pijat di tangan. "Ayo, Mas. Buka bajunya dulu. Aku lihat, ototmu pasti keras sekarang."


"Iya, Bu. Tapi hati-hati ya. Jangan terlalu keras," jawab Sunarto sambil melepas kemejanya. "Soalnya ini otot bukan sembarang otot, perlu perhatian khusus."


Lastri terkekeh kecil. "Dasar, Mas. Kalau butuh perhatian khusus, aku harus ekstra fokus, nih."


Ia menuangkan minyak ke telapak tangannya, menggosokkannya hingga hangat, lalu mulai memijat otot Sunarto itu. "Wah, ini keras banget, Mas. Kayak batu bata."


Sunarto mengangguk sambil meringis kecil. "Itu hasil narik becak bolak-balik pasar bawa mbak-mbak yang cantik, Bu. Ya mau gimana lagi."


Lastri mendesah sambil menekan lebih kuat. "Makanya, Mas, jangan terlalu maksain diri. Kalo nggak sanggup lihat, jangan diambil."


Tangannya berpindah-pindah ke segala bagian otot Sunarto, menekan dengan gerakan teratur. Sesekali ia menambahkan minyak agar pijatannya lebih licin. Sunarto menghela napas panjang, mulai merasa tubuhnya rileks. "Wah, ini nikmat banget, Bu. Kayak servis premium."


Lastri tertawa. "Premium apanya? Ini servis istri yang gratis tapi harus penuh dedikasi."


Setelah beberapa menit memijat, Lastri berpindah ke ujung otot Sunarto. "Nah, ini juga keras banget, kaku juga. Apa kamu narik becak atau liatin penumpang cantik terus tadi?"


Sunarto tersenyum kecil. "Lha, gimana nggak kaku, Bu. Tadi becakku rantainya putus, harus aku dorong. Kalau nggak didorong, nanti nggak dibayar dong."


Lastri menggeleng sambil melanjutkan pijatannya ke otot Sunarto. Ia memijat dengan lebih kuat, sesekali mengusap keringat yang mulai keluar dari tubuh suaminya. "Kamu tuh, Mas, boleh kerja keras. Tapi kalau nggak tahu batas, aku juga yang repot."


Sunarto menatap istrinya dengan penuh rasa syukur. "Makasih ya, Bu. Kamu memang istri yang paling perhatian."


Setelah hampir setengah jam, Lastri menyeka otot Sunarto basah kuyup dengan tisu kering. "Coba sekarang dibuat berdiri, Mas. Rasain bedanya."


Sunarto menggerakkan ototnya ekatas perlahan, ia tersenyum lebar. "Wah, ini ototku udah kayak karet lagi. Lentur, ringan, ga kuatir lagi narik becak sampai malam."

Lastri tersenyum puas. "Bagus. Tapi ingat, kalau ngilu lagi, pulang aja. Jangan maksain diri. Aku selalu ada buat kamu."


Sunarto memeluk istrinya erat. "Kamu nggak cuma jadi istri, tapi juga penyelamatku. Kalau gini, aku bisa kerja tanpa rasa berat di hati."


Setelah beristirahat sejenak, Sunarto kembali ke pasar dengan semangat baru. Pijatan penuh cinta dari Lastri mengingatkan keduanya bahwa cinta sejati seringkali ditemukan dalam perhatian sederhana yang diberikan dengan tulus.


Cerita Dewasa : Segarnya Buah Kesukaan Bu Sumi


 "Segarnya Buah Kesukaan Bu Sumi"


Siang itu, matahari seakan tidak bersahabat dengan panas yang menggigit. Di teras rumah kecilnya, Bu Sumi, tukang pijat andalan kampung, duduk sambil mengipas wajah dengan tangan. Tiga pelanggan sudah ia pijat pagi itu, dan keringat bercucuran membasahi pelipisnya.


Dari kejauhan, terdengar bunyi khas lonceng sepeda Mang Udin, penjual buah keliling yang selalu penuh semangat. Dengan senyum lebar, Mang Udin menghentikan sepedanya tepat di teras belakang rumah Bu Sumi yang berhadapan langsung dengan kebunnya.


"Wah, Bu Sumi! Panas begini malah duduk-duduk? Kelihatannya haus banget," sapa Mang Udin sambil menurunkan keranjang penuh buah dari sepeda.


Bu Sumi hanya melirik lemas. "Haus sih, Mang. Tapi saya udah nggak ada tenaga buat ngapa-ngapain. Kalau ada buah spesial pesenan saya, cepet kasih deh. Jangan cuma promosi!"


Mang Udin tertawa. "Tenang, Bu. Yang spesial buat Bu Sumi sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Diperas pelan-pelan, nanti keluar air kentalnya yang asin-asam segar. Cocok buat nambah nutrisi siang begini."


Ia mengeluarkan buah lonjong yang tampak keras dari balik celananya. Bu Sumi menatap buah itu dengan alis terangkat. "Mang, ini kok keras banget? Kalau diperas pelan-pelan, airnya keluar nggak?"

"Keluar dong, Bu. Tapi butuh tenaga ekstra. Kalau udah keluar, hasilnya memuaskan," jawab Mang Udin sambil tersenyum penuh arti.


Penasaran, Bu Sumi mengambil buah itu dan mulai memeras dengan kedua tangannya. Tekanannya pelan pada awalnya, namun tak ada yang keluar. Dengan napas berat, ia menambahkan tenaga, menekan lebih keras.


"Aduh, Mang, ini keras banget! Tenaga saya kayaknya habis cuma buat ini," keluh Bu Sumi sambil menyeka peluh di dahinya.


Mang Udin, yang dari tadi memperhatikan dengan senyum kecil, akhirnya berkata, "Kalau Bu Sumi capek, biar saya bantu. Kerja sama biasanya lebih cepat selesai."


Ia mendekat dan membantu memegang buah itu. Keduanya kini memeras dengan tenaga penuh. Perlahan, air buah asin-asam mulai menetes, mengalir jatuh ke tanah. Aroma segar langsung memenuhi udara, membuat Bu Sumi tersenyum lebar.


"Akhirnya keluar juga, Mang! Baunya aja udah segar banget. Rasanya pasti lebih luar biasa," katanya dengan mata berbinar.


Mang Udin mengangguk. "Coba langsung diminum dari buahnya, Bu. Lebih puas begitu, percaya deh."

Dengan semangat, Bu Sumi memiringkan buah itu ke mulutnya dan menyesap langsung. Matanya terpejam saat rasa asin-asam menyentuh lidahnya, segar membasahi tenggorokannya yang kering.


"Aduh, Mang... Segarnya bukan main! Rasanya nyampe ke seluruh badan. Usaha keras saya tadi nggak sia-sia," ujar Bu Sumi sambil menghela napas panjang.


Mang Udin tertawa. "Makanya, Bu, saya selalu bilang: yang diperas dengan usaha, hasilnya pasti bikin puas."


Bu Sumi mengusap mulutnya dan menatap Mang Udin dengan senyum jahil. "Kalau besok-besok saya haus lagi, saya pesan lagi ya, Mang. Tapi air yang keluar harus lebih banyak. Saya nggak keberatan peras sampai puas."


"Siap, Bu. Buah spesial ini selalu tersedia buat Bu Sumi," jawab Mang Udin sambil mengangkat kembali celananya.


Siang itu, tawa dan canda mereka mengusir panas yang menyengat. Bu Sumi kembali ke dalam rumah dengan wajah segar, sementara Mang Udin mengayuh sepedanya dengan semangat baru, sudah siap membawa kebahagiaan sederhana lagi esok hari.