"Apem Lumer untuk Sang Manager dari Pembantu Setia"
Pak Darman, seorang manager paruh baya yang mapan, hidup sendirian di rumah mewahnya. Usianya sudah kepala lima, tapi penampilannya tetap rapi, berkharisma, dan selalu wangi.
Setelah bercerai belasan tahun lalu, ia hanya ditemani Bu Ratmi, pembantu rumah tangganya yang setia. Bu Ratmi sudah bekerja selama 20 tahun di rumah itu. Meskipun usianya 45 tahun, Bu Ratmi masih tampak cantik dengan pipi bulat merona dan tubuh yang tetap montok. Apalagi kebaya yang selalu dikenakannya, menjadikan pesonanya sulit diabaikan.
Suatu sore, Pak Darman pulang dengan wajah penuh penat. Hari itu kantornya penuh tekanan: jadwal rapat yang bertumpuk, klien yang rewel, dan bos besar yang suka marah-marah. Ia masuk rumah, melepas dasi, dan duduk di sofa ruang tengah dengan napas berat.
Dari sudut ruangan, terlihat Bu Ratmi sedang menyapu lantai ruang makan dengan lenggak-lenggok santai, seperti model di atas catwalk. Gerakannya membuat kebaya yang dikenakan terlihat pas di tubuhnya. Tak hanya itu, tatapan matanya yang kadang melirik genit ke arah Pak Darman semakin menarik perhatian sang manager.
Pak Darman tersenyum kecil. “Bu Ratmi, malam ini saya ingin sesuatu yang spesial. Tolong siapkan apem lumer isi saus keju, ya. Bawa ke kamar saya nanti malam,” katanya dengan nada datar namun penuh makna.
Bu Ratmi yang memang terbiasa melayani tanpa banyak bertanya langsung menjawab, “Baik, Pak. Saya akan buatkan apem lumer paling enak untuk Bapak.”
Menjelang tengah malam, Bu Ratmi mengetuk pintu kamar Pak Darman sambil membawa piring besar berisi apem lumer yang baru matang. Wangi keju menyeruak di udara.
“Ini apemnya, Pak. Hangat dan lumer seperti yang Bapak minta,” kata Bu Ratmi sambil tersenyum.
Namun, reaksi Pak Darman di luar dugaan. Ia menatap piring itu dengan kesal. “Bu Ratmi, bukan ini maksud saya! Bawa keluar! Saya sudah terlalu capek untuk menjelaskan sekarang.” serunya sambil melambaikan tangan.
Bu Ratmi bingung, tapi tak berani bertanya. Ia pun keluar dengan perasaan tak enak.
Keesokan malamnya, Pak Darman kembali meminta hal yang sama. “Bu Ratmi, bawakan apem lumer ke kamar saya. Pastikan kali ini benar-benar sesuai permintaan saya,” katanya dengan nada lebih tegas.
Bu Ratmi merasa bersalah atas kejadian malam sebelumnya. Ia pun bergegas menyiapkan sepiring besar apem lumer dengan saus keju lebih banyak dan tampilan yang lebih menggoda.
Namun, lagi-lagi, begitu ia masuk ke kamar dan menyajikan apem itu, Pak Darman tampak kecewa. “Astaga, Bu Ratmi! Sampai kapan Anda tidak mengerti? Saya bilang apem lumer, bukan ini!”
Dengan wajah penuh kebingungan, Bu Ratmi kembali membawa keluar piring itu. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang dimaksud dengan apem lumer?
Pagi harinya, Bu Ratmi bertemu dengan Bu Ning, pembantu rumah tetangga, saat membuang sampah di depan pagar. Melihat wajah Bu Ratmi yang murung, Bu Ning bertanya, “Bu Ratmi, kok murung banget? Ada masalah?”
Bu Ratmi menghela napas. “Majikan saya marah-marah terus, Bu. Dua malam ini dia minta saya bawakan apem lumer ke kamarnya, tapi begitu saya bawa, dia malah kesal. Padahal saya sudah buat apem terbaik saya.”
Mendengar cerita itu, Bu Ning mendadak tertawa geli. Wajahnya memerah, dan ia menutup mulutnya dengan tangan.
“Ada apa, Bu Ning? Kok malah ketawa?” tanya Bu Ratmi penasaran.
“Bu Ratmi,” bisik Bu Ning malu-malu. “Maksud majikan Ibu itu bukan apem di piring, tapi apem yang… itu lho…”
Bu Ning menjelaskan dengan berbisik panjang lebar, hingga wajah Bu Ratmi ikut merah padam. Mereka tertawa kecil bersama, sambil merasa geli dengan permintaan aneh majikan masing-masing. “Astaga, Bu Ning! Kalau begitu, kenapa Pak Darman nggak ngomong jelas dari awal?”
“Maklum, Bu Ratmi. Bos-bos itu kadang suka berbasa-basi. Majikan saya juga begitu." kata Bu Ning sambil tertawa kecil. “Tapi dia bilangnya bukan apem lumer. Dia nyebutnya serabi lempit.”
Malam itu, Bu Ratmi memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Ia mengenakan kebaya terbaiknya, menata rambutnya dengan rapi, dan memastikan apemnya dalam kondisi prima—tanpa piring, tanpa keju.
Setelah mengetuk pintu kamar Pak Darman, ia masuk dengan percaya diri. Pak Darman menoleh, dan untuk pertama kalinya, ia terlihat puas.
“Bu Ratmi, akhirnya Anda paham juga,” kata Pak Darman dengan senyum lebar.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara Pak Darman berseru dari dalam kamar, “Wah, apem ini tebal, empuk, dan gurih! Pas banget dengan yang saya mau!”
Bu Ratmi pun tertawa kecil. “Terima kasih, Pak. Saya cuma ingin jadi pembantu yang baik untuk Bapak.”
Sejak malam itu, hubungan Pak Darman dan Bu Ratmi jadi lebih hangat. Pak Darman tak lagi penat sepulang kerja, karena selalu ada apem lumer spesial yang menunggunya di rumah. Bu Ratmi pun merasa bangga karena akhirnya bisa memahami dan melayani keinginan majikannya. Bahkan, Bu Ratmi terlihat lebih semangat bekerja, dengan kebaya yang lebih berwarna dan senyum yang selalu merekah.
Kisah mereka menjadi rahasia kecil di rumah mewah itu, sementara rekan kerjanya hanya bisa menebak-nebak kenapa Pak Darman kini selalu terlihat lebih bahagia dan jarang mengeluh soal pekerjaan. Sedangkan Ratmi semakin rajin berdandan. Hubungan mereka menjadi lebih hangat, meskipun semuanya tetap terjaga rapi tanpa seorang pun tetangga tahu.
Dan setiap kali mereka mendengar tawa dari dalam rumah Pak Darman, tetangga sebelahnya dan Bu Ning hanya bisa saling tersenyum, membatin, “Ah, pasti apem lumer lagi…”







