"Risol Mayo, Apem Lumer dan Kekacauan di Dusun SukaRasa"
Di suatu dusun kecil yang damai, hiduplah sepasang suami istri bernama Pak Mardi dan Bu Sumi. Mereka memiliki usaha kecil-kecilan, yaitu warung risol mayo yang buka dari sore hingga malam di depan rumah mereka.
Awalnya, risol mayo mereka biasa-biasa saja—berbentuk standar, berbalut roti panir, dan diisi sosis kecil dengan mayonaise secukupnya. Meski enak, dagangan mereka kurang laku.
Pak Mardi mulai resah. Bahkan membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama di atas ranjang.
“Bu, kalau begini terus kita nggak bakal bisa nabung buat beli kulkas baru,” keluh Pak Mardi sambil menghitung receh hasil jualan hari itu.
“Kita harus sabar, Pak. Mungkin besok laku lebih banyak,” jawab Bu Sumi optimis meski dalam hati ikut gusar.
Namun, Pak Mardi tak ingin hanya menunggu keberuntungan. Malam itu, setelah Bu Sumi tidur, ia mulai bereksperimen. Ia menciptakan Risol Mayo Spesial Rahasia. Risol itu tidak seperti biasanya: ukurannya lebih besar dan lonjong, tanpa roti panir, dengan potongan sosis tebal di dalamnya. Tidak hanya itu, Pak Mardi menambahkan banyak mayonaise putih kental hingga meluber saat ditekan-tekan.
Keesokan harinya, Pak Mardi diam-diam menjual risol mayo spesial itu tanpa memberitahu istrinya. Anehnya, risol tersebut langsung laris manis. Namun, ada kejanggalan: yang membeli hanya ibu-ibu.
"Pak Mardi, boleh pesen satu risol mayo spesial lagi?" tanya Bu Nur, seorang pelanggan setia, sambil senyum-senyum genit.
"Tapi ingat, Bu, nggak boleh dibawa pulang ya. Dinikmati di sini aja," tegas Pak Mardi, sambil menunjuk ke arah sebuah bilik kecil di sebelah warungnya.
“Wah, enak banget, Pak! Gurih, puas banget. Mayonaisenya tuh, ya ampun, bikin nggak mau berhenti!” ujar Bu Nur dengan mata berbinar-binar.
Ibu-ibu lain yang mendengar komentar Bu Nur langsung ikut menyerbu warung Pak Mardi. Mereka antre panjang setiap sore. Akibatnya, para ibu-ibu itu jarang pulang ke rumah. Suami mereka mulai kesal karena istri-istri mereka jadi tak perhatian dan malas melayani kebutuhan rumah.
Di sisi lain, Bu Sumi mulai curiga. Ia heran melihat suaminya diam-diam sukses menjual risol mayo spesial yang hanya dipesan ibu-ibu. Ia mulai jengkel, apalagi saat mendengar desas-desus dari para bapak-bapak.
"Bu, gara-gara risol suamimu itu, istri-istri kami sekarang nggak peduli sama kami lagi! Gimana nih?" protes Pak Karto, salah satu warga.
Bu Sumi pun merasa perlu membalas keadaan ini. Ia berpikir keras, hingga akhirnya menemukan ide membuat Apem Tebal Lumer Spesial. Apem itu berbeda dari biasanya, lebih tebal dengan keju cair gurih di tengahnya yang meleleh saat dibuka. Malam itu, ia memulai debut apem spesialnya.
Ternyata, ide itu sukses besar. Para bapak-bapak langsung menyerbu warung Bu Sumi.
“Bu Sumi, apemnya bikin nagih banget! Tebalnya pas, kejunya lumer. Sungguh luar biasa!” puji Pak Karto sambil menyeruput teh manis.
Bu Sumi pun memberikan aturan yang sama seperti suaminya: apem lumer hanya boleh dimakan di tempat, tepatnya di sebuah garasi yang tidak terpakai di rumahnya. Kini giliran para bapak-bapak yang tidak kunjung pulang ke rumah.
Karena risol mayo spesial dan apem lumer ini, suasana dusun menjadi kacau. Para ibu-ibu dan bapak-bapak saling tidak akur. Ibu-ibu sibuk memburu risol mayo di warung Pak Mardi, sementara bapak-bapak betah nongkrong menikmati apem lumer Bu Sumi.
“Lihat tuh, Bu! Ibu juga bikin kacau dusun. Sama aja!” ujar Pak Mardi saat Bu Sumi memprotes risol spesialnya.
“Ya abis gimana? Ini kan karena risol anehmu itu!” sahut Bu Sumi kesal.
Akhirnya, mereka sadar bahwa masalah ini harus diselesaikan. Suami istri itu memutuskan menutup warung sementara. Mereka ingin mencari tahu kenapa kue spesial mereka bisa membuat warga dusun begitu tergila-gila.
Malam itu, di kamar mereka, Pak Mardi dan Bu Sumi berbicara empat mata.
“Pak, aku pengen tahu, apa sih yang bikin risol mayomu itu spesial?” tanya Bu Sumi sambil menatap suaminya tajam.
“Yaudah, kamu juga kasih tahu apem spesialmu itu kenapa bisa bikin para bapak-bapak gila,” balas Pak Mardi.
Akhirnya, mereka saling menunjukkan resep rahasia masing-masing.
“Lho, ini... kan cuma sosis besar sama mayonaise punyamu sendiri Pak?” tanya Bu Sumi sambil tertawa.
“Dan apem lumer kamu itu, ya ampun... itu cuma keju cair biasa yang biasa keluar dari apem punyamu!” sahut Pak Mardi sambil mengusap wajahnya.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak di kamar. “Kenapa ya warga dusun malah mengincar ini, padahal mereka punya hal yang sama di rumah masing-masing?” gumam Pak Mardi.
Dari luar, para bapak-bapak dan ibu-ibu yang menguping percakapan itu saling bertukar pandang. Mereka tersadar bahwa apa yang mereka cari-cari ternyata sudah ada di rumah masing-masing. Mereka pun bubar dan kembali ke rumah.
Sementara itu, dari dalam kamar Pak Mardi dan Bu Sumi, terdengar tawa kecil yang diselingi rayuan. “Bu, ternyata apem lumer kamu lebih gurih kalau dinikmati berdua seperti ini.”
“Pak, risol mayo kamu ternyata juga enak kalau aku yang nikmatin sendiri.” sahut Bu Sumi sambil tertawa geli.
Dusun yang sempat kacau itu akhirnya kembali damai. Pak Mardi dan Bu Sumi pun menutup resep spesial mereka, cukup untuk dinikmati berdua di rumah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar