Buah Spesial Para Istri Penjual Buah
Di sebuah jalan kecil yang ramai oleh pedagang dan pembeli, ada dua tenda buah yang berdiri berdampingan. Di tenda pertama, ada Pak Udin, penjual buah yang terkenal dengan kumis lebatnya yang sering membuat anak-anak takut. Di tenda sebelahnya, ada Pak Slamet, penjual buah dengan perut buncit yang selalu memakai topi miring seperti mau bertanding tinju.
Mereka sudah berjualan bertahun-tahun, tapi entah kenapa, setiap hari selalu saja ribut soal siapa yang lebih hebat. Masalahnya? Mereka menjual buah-buahan yang sama! Dari mangga, jeruk, apel, sampai durian. Tapi yang bikin mereka makin sering adu mulut adalah "buah spesial" yang mereka bawa dari rumah.
Buah spesial ini bukan sembarang buah. Istri mereka masing-masing yang membawa buah itu setiap pagi, dan keduanya selalu mengklaim bahwa buah spesial dari istri mereka adalah yang terbaik khusus untuk pelanggan setia mereka.
Buah spesial istri Pak Udin berbentuk bulat besar seperti melon. "Lihat tuh, bulat sempurna, segar, dan berat! Pelanggan saya pasti lebih suka buah ini," kata Pak Udin penuh percaya diri.
Sedangkan buah spesial istri Pak Slamet berbentuk lonjong dan oval seperti pepaya. "Pak Udin, buah istri saya ini lebih lonjong, elegan, dan teksturnya lembut. Buah ini cocok buat siapa saja!"
Dan begitulah, setiap hari argumen mereka semakin membara.
Hari itu, matahari menyengat dan saat sepi pembeli. Pak Udin sedang mengatur semangka di tendanya ketika Pak Slamet, yang baru saja tiba, memamerkan dua buah spesial istrinya dengan penuh gaya.
Pak Udin melirik sekilas. "Pak Slamet, sampean yakin pelanggan mau beli buah itu? Bentuknya kayak nggak yakin mau jadi buah."
Pak Slamet langsung menoleh. "Astaga, Pak Udin! Buah istri sampean itu memang besar, tapi besar doang, isinya pasti biasa aja."
Pak Udin mendengus. "Biasa gimana? Buah istri saya itu berkualitas! Pelanggan setia saya selalu balik lagi."
Pak Slamet tertawa kecil. "Balik lagi karena mereka lupa rasa buahnya, Pak. Kalau makan buah istri saya, sekali coba langsung ingat selamanya."
Adu mulut mereka makin panas. Bahkan istri mereka mengeluh dan berbisik, "Ya ampun, penjual buah kok berantem kayak anak TK."
Di tengah keributan itu, istri mereka masing-masing datang mendekat. Bu Siti, istri Pak Udin, adalah wanita yang selalu sabar, tapi hari itu wajahnya sudah merah. Sementara Bu Lastri, istri Pak Slamet, terlihat menahan tawa melihat tingkah suaminya.
"Pak Udin, Pak Slamet, sudah cukup ributnya! Kalau memang kalian berdua nggak berhenti, kenapa nggak coba aja buah spesial dari istri masing-masing?" kata Bu Siti.
Pak Slamet langsung menyahut. "Nah, betul itu, Bu Siti. Tapi kalau Pak Udin coba buah istri saya, dia harus ngaku kalau buah saya lebih enak!"
Bu Lastri menimpali. "Kalau begitu, Pak Slamet juga harus coba buah istri Pak Udin dan ngomong yang jujur."
Kedua pria itu saling pandang dengan mata menyipit. Awalnya mereka ragu, tapi karena gengsi, akhirnya mereka setuju.
Pak Udin memulai lebih dulu. Dengan perasaan campur aduk, ia memegang salah satu buah spesial milik istri Pak Slamet yang lonjong dan oval. Ia memegangnya dengan hati-hati, lalu mencicipi teksturnya langsung.
Begitu ia mencoba, ekspresi wajahnya berubah. "Wah, Pak Slamet, buah ini kenyal banget! Teksturnya lembut di lidah. Saya akui, ini enak!"
Pak Slamet tersenyum puas. "Tuh, kan! Saya bilang juga apa, Pak Udin. Buah istri saya memang juara."
Sekarang giliran Pak Slamet. Ia juga memegang salah satu buah spesial milik istri Pak Udin yang bulat besar seperti melon. Ia mengamatinya sebentar, lalu mencicipinya dengan hati-hati. Wajahnya sempat terdiam, membuat Pak Udin menunggu dengan cemas.
"Pak Udin," kata Pak Slamet akhirnya, "buah ini... teksturnya memang lebih kaku. Tapi begitu masuk di mulut, rasanya kok nagih ya? Empuknya pas, ada sedikit sensasi gurih. Saya jadi nggak bisa berhenti nyicip!"
Pak Udin tersenyum lebar. "Tuh, kan! Saya bilang juga apa, Pak Slamet. Buah istri saya memang beda."
Setelah mencicipi buah spesial dari istri masing-masing, kedua penjual itu akhirnya sepakat bahwa kedua buah spesial milik istri mereka itu sama-sama hebat. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Mereka akhirnya saling memuji dengan tulus.
"Pak Slamet, buah istri sampean memang enak. Pelanggan pasti suka," kata Pak Udin sambil menjabat tangan temannya.
"Pak Udin, buah istri sampean juga nggak kalah. Rasanya bikin ketagihan," balas Pak Slamet sambil tersenyum.
Sebagai simbol perdamaian, mereka bahkan saling membayar usai buah spesial dari istri masing-masing dicicipi.
Namun, cerita belum selesai sampai di situ. Bu Siti dan Bu Lastri punya rencana lanjutan. Mereka memutuskan untuk masing-masing membawakan langsung buah spesial mereka ke tenda suami yang lain, sebagai tanda rekonsiliasi.
Bu Siti datang ke tenda Pak Slamet sambil membawa buah miliknya yang lonjong itu. "Pak Slamet, ini buah punya saya, biar Bapak bisa nikmatin lagi," katanya dengan senyum lebar.
Tak lama kemudian, Bu Lastri muncul di tenda Pak Udin sambil membawa buahnya yang bulat. "Pak Udin, ini buah spesial dari saya. Semoga makin suka!"
Pak Udin dan Pak Slamet saling bertukar pandang, lalu tertawa lepas. Mereka kembali mencicipi 2 buah spesial itu dari lawan istri mereka, kali ini di belakang tenda masing-masing, tanpa ada pelanggan yang melihat.
"Hmm, Bu Lastri memang hebat. Buahnya ini benar-benar lembut dan kenyal," kata Pak Udin sambil menikmatinya.
Pak Slamet tak mau kalah. "Bu Siti juga jago! Buahnya yang segede melon ini gurih banget di mulut, saya nggak bisa berhenti nih."
Keduanya terus memuji buah-buahan itu, sampai terdengar dari depan tenda teriakan mereka, "Ini buah terenak yang pernah saya coba!"
Sejak saat itu, Pak Udin dan Pak Slamet berhenti bersaing. Mereka bahkan bekerja sama mempromosikan buah spesial masing-masing kepada pelanggan.
Tenda mereka jadi lebih ramai, dan hubungan mereka, yang dulu penuh persaingan, berubah jadi persahabatan yang erat—semuanya berkat "buah spesial" milik istri-istri mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar