"Burung Conty yang Kesepian"
Di sebuah desa kecil yang tenang, hiduplah seorang perjaka tua bernama Pak Siman. Walaupun usianya sudah lebih dari setengah abad, Pak Siman tetap semangat menjalani hari-harinya. Tinggal di rumah kecil dengan kebun samping yang subur, Pak Siman menjalani hidupnya sederhana sebagai petani. Namun, ada satu hal yang membuatnya begitu terkenal di kampung itu: burung kesayangannya yang bernama Conty.
Burung Conty bukan burung biasa. Tubuhnya besar, hitam legam, berotot, dan gagah perkasa. Setiap kali Pak Siman membawa Conty keluar rumah—entah ke sawah, ke pasar, atau bahkan saat mandi di sun
gai—semua mata pasti tertuju padanya, terutama mata ibu-ibu tetangga.
Bahkan, saking gagahnya, ibu-ibu tetangga di kampung sering memuji-muji burung itu, bahkan sampai terlihat "gatal" kalau melihat Conty.
"Astaga, Pak Siman. Itu Conty bikin gemes, deh. Gagah banget!" kata Bu Sri, tetangga yang tiap pagi nyelonong ke halaman rumah Pak Siman.
“Iya, Bu. Kok bisa ya burungnya segagah itu? Apalagi kalau dilihat dekat-dekat. Bikin gemes!” timpal Bu Sarmi, yang ikut-ikutan mencuri pandang setiap kali Pak Siman lewat.
"Iya, ya. Pengen pegang, tapi malu!" celetuk Bu Siti, sambil cekikikan dengan ibu-ibu lainnya.
Pak Siman hanya terkekeh, mengelus Conty yang selalu nangkring gagah di bawah perutnya. “Ya begitulah, Bu. Namanya juga burung kesayangan,” ujarnya bangga.
Ibu-ibu pun semakin penasaran dengan Conty. Tiap sore, mereka berdatangan ke rumah Pak Siman, pura-pura ingin meminta cabe atau bertanya soal panen. Padahal, ujung-ujungnya cuma mau melihat aksi gagah Conty yang selalu dibawa ke sana kemari.
Namun, beberapa minggu belakangan, ada yang aneh. Setiap malam, Pak Siman tidak bisa tidur nyenyak. Ia merasa tubuhnya geli-geli dari perut hingga paha, seperti ada yang menggelitik. Paginya, ia bangun dengan wajah bingung. Lebih parahnya lagi, Conty terlihat lemas dan di ujung paruhnya selalu ada bekas muntahan putih.
"Lho, Conty, kamu kenapa? Kok pagi-pagi udah letoy?" gumam Pak Siman heran sambil mengelus kepala burungnya.
Burung Conty cuma diam tidak merespon sentuhan Pak Siman, seperti kehabisan energi. Hal ini berlangsung berhari-hari. Sementara itu, ibu-ibu di kampung justru terlihat semakin gemas. Mereka jadi lebih sering mampir ke rumah Pak Siman, sengaja melihat-lihat si Conty. Mereka lebih sering berdatangan, memuji-muji Conty, bahkan menyentuhnya diam-diam saat Pak Rono lengah.
“Burungnya makin lemes, ya? Jangan-jangan butuh perhatian lebih, Pak Siman,” goda Bu Sri.
Pak Siman mulai bingung. Ibu-ibu ini kok makin aneh?
Hingga suatu pagi yang cerah, suasana kampung mendadak geger. Sekelompok bapak-bapak kampung datang menggeruduk rumah Pak Siman dengan wajah penuh amarah. Pak Karyo, pemimpin rombongan, mengetuk pintu keras-keras.
“Pak Siman! Keluar kau!” teriaknya.
Pak Siman keluar dengan wajah bingung. “Ada apa ini, Pak? Kok ramai-ramai ke rumah saya?”
“Sudah cukup! Kami protes! Burung Conty nggak boleh lagi dipamer-pamerin di kampung ini!” seru Pak Karyo sambil menunjuk-nunjuk Conty yang bertengger lemas di pundak Pak Siman.
“Iya, Pak! Gara-gara Conty, istri-istri kami jadi lupa pulang! Setiap sore mereka nongkrongin Conty di sini!” tambah Pak Bejo.
“Sudah cukup, Pak! Kami nggak terima!” seru Pak Karyo. “Gara-gara burung Conty itu, istri-istri kami jadi lupa pulang, lupa masak, bahkan lupa ngurusin kami!”
“Bener, Pak! Istri saya tiap sore nongkrong di sini! Katanya, mau lihat Conty. Tapi balik-balik malah senyum-senyum sendiri,” tambah Pak Bejo sambil mengusap kepalanya yang botak.
Pak Siman semakin bingung. Burung kesayangannya dianggap sumber masalah? Namun, karena takut keributan makin besar, ia akhirnya setuju. “Baiklah, Pak. Mulai sekarang Conty nggak akan saya bawa keluar rumah lagi.”
Merasa stres dengan situasi yang makin aneh, Pak Siman memutuskan pergi keluar desa mencari udara segar. Ia duduk-duduk di dekat pasar tradisional, seperti biasa membawa Conty di balik celananya.
Saat itulah seorang pria makelar mendekatinya. “Pak, kenapa wajahnya murung? Ada masalah?” tanyanya ramah.
Pak Siman pun menceritakan masalahnya, dari geli-geli saat tidur, Conty yang lemas, hingga protes bapak-bapak tetangga.
Pria makelar mengangguk bijak, lalu berkata, “Pak, masalahnya jelas. Burung Conty itu butuh teman setia, yang bisa menemaninya tidur dengan nyaman.”
“Lho, teman setia? maksudnya?” tanya Pak Siman heran.
“Ada yang cocok untuk Conty. Sapi betina,” jawab si makelar mantap.
Pria makelar itu membawa Pak Siman ke tempat penjualan sapi di pasar. Di sana, ia menunjuk seekor sapi betina berwarna putih, montok, dan memiliki ambing besar.
“Nah, ini dia, Pak. Namanya Sapiawati. Umurnya masih muda, sekitar 20 tahunan. Montok, besar, empuk. Pas buat Conty!” ujarnya.
Pak Siman memandang Sapiawati dengan takjub. “Mantap juga, ya.”
“Kalau nggak percaya, coba dulu, Pak. Ada bilik di belakang buat mengetes kecocokan Conty dengan Sapiawati,” kata si makelar.
Pak Siman membawa Conty dan Sapiawati ke dalam bilik. Tak lama, terdengar suara teriakan dari dalam. “Wah! Conty suka sama Sapiawati! Hangat, besar, dan empuk!” seru Pak Siman penuh semangat.
Pak Siman akhirnya membawa pulang Sapiawati. Setibanya di kampung, ia tak lagi membawa Conty keluar rumah. Burung Conty kini lebih betah di dalam rumah, menghabiskan waktu bersama Sapiawati.
Bahkan, malam-malam Pak Siman kembali nyenyak. Kadang terdengar teriakan puas dari dalam rumah, “Ah, Sapiawati, kamu memang luar biasa!”
Suasana kampung pun kembali tenang. Ibu-ibu tak lagi heboh datang ke rumah Pak Siman, dan bapak-bapak bisa tidur nyenyak tanpa harus curiga.
Kini, burung Conty hidup bahagia bersama Sapiawati, dan Pak Siman pun berkata dengan senyum lebar, “Untung ada Sapiawati. Kalau nggak, Conty bisa makin letoy!”
Dan begitulah, kisah Pak Siman dan burung Conty berakhir dengan damai. Kampung kembali tentram, dan semua orang belajar bahwa terkadang solusi datang dari tempat yang tak disangka-sangka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar