“Pijatan Sang Istri untuk Sang Pejuang Roda Tiga”
Matahari bersinar terik di langit siang, membuat aspal jalanan terasa seperti wajan penggorengan. Sunarto, seorang tukang becak di kampung, melaju pelan menuju rumahnya. Tubuhnya masih terasa bugar dan kuat, namun ada satu ototnya menjerit protes. Sesampainya di depan rumah kecilnya, ia menurunkan kakinya dari pedal becak dan mengeluh.
"Aduh, ototku yang satu ini rasanya harus dilemesin dulu." gumamnya sambil memarkir becak di teras.
Sunarto membuka pintu dan menemukan istrinya, Lastri, tengah sibuk menimang anak mereka yang sedang rewel. Dengan suara yang lelah, Sunarto berkata, "Bu, aku pulang dulu. Ototku lagi tegang. Pegal, ngilu-ngilu, rasanya mau meledak."
Lastri menoleh dengan ekspresi khawatir. "Lho, kok sudah pulang, Mas? Biasanya jam segini masih narik penumpang. Ada apa?"
Sunarto menurunkan tubuhnya ke lantai, mengambil sarung untuk menyeka keringatnya. "Tadi narik penumpang cantik ke pasar, lama-lama dilihat jadi nggak kuat. Kalau diterusin, bisa-bisa aku jatuh dari becak karena nggak konsen."
Lastri mengangguk paham, meletakkan anak mereka yang masih merengek ke tempat tidur. "Ya udah, Mas, tunggu sebentar. Aku tidurin si kecil dulu. Nanti aku pijetin."
Sunarto tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat lelah. Dalam hatinya, ia bersyukur memiliki istri yang selalu siaga.
Setelah beberapa menit, Lastri kembali dengan kain dan minyak pijat di tangan. "Ayo, Mas. Buka bajunya dulu. Aku lihat, ototmu pasti keras sekarang."
"Iya, Bu. Tapi hati-hati ya. Jangan terlalu keras," jawab Sunarto sambil melepas kemejanya. "Soalnya ini otot bukan sembarang otot, perlu perhatian khusus."
Lastri terkekeh kecil. "Dasar, Mas. Kalau butuh perhatian khusus, aku harus ekstra fokus, nih."
Ia menuangkan minyak ke telapak tangannya, menggosokkannya hingga hangat, lalu mulai memijat otot Sunarto itu. "Wah, ini keras banget, Mas. Kayak batu bata."
Sunarto mengangguk sambil meringis kecil. "Itu hasil narik becak bolak-balik pasar bawa mbak-mbak yang cantik, Bu. Ya mau gimana lagi."
Lastri mendesah sambil menekan lebih kuat. "Makanya, Mas, jangan terlalu maksain diri. Kalo nggak sanggup lihat, jangan diambil."
Tangannya berpindah-pindah ke segala bagian otot Sunarto, menekan dengan gerakan teratur. Sesekali ia menambahkan minyak agar pijatannya lebih licin. Sunarto menghela napas panjang, mulai merasa tubuhnya rileks. "Wah, ini nikmat banget, Bu. Kayak servis premium."
Lastri tertawa. "Premium apanya? Ini servis istri yang gratis tapi harus penuh dedikasi."
Setelah beberapa menit memijat, Lastri berpindah ke ujung otot Sunarto. "Nah, ini juga keras banget, kaku juga. Apa kamu narik becak atau liatin penumpang cantik terus tadi?"
Sunarto tersenyum kecil. "Lha, gimana nggak kaku, Bu. Tadi becakku rantainya putus, harus aku dorong. Kalau nggak didorong, nanti nggak dibayar dong."
Lastri menggeleng sambil melanjutkan pijatannya ke otot Sunarto. Ia memijat dengan lebih kuat, sesekali mengusap keringat yang mulai keluar dari tubuh suaminya. "Kamu tuh, Mas, boleh kerja keras. Tapi kalau nggak tahu batas, aku juga yang repot."
Sunarto menatap istrinya dengan penuh rasa syukur. "Makasih ya, Bu. Kamu memang istri yang paling perhatian."
Setelah hampir setengah jam, Lastri menyeka otot Sunarto basah kuyup dengan tisu kering. "Coba sekarang dibuat berdiri, Mas. Rasain bedanya."
Sunarto menggerakkan ototnya ekatas perlahan, ia tersenyum lebar. "Wah, ini ototku udah kayak karet lagi. Lentur, ringan, ga kuatir lagi narik becak sampai malam."
Lastri tersenyum puas. "Bagus. Tapi ingat, kalau ngilu lagi, pulang aja. Jangan maksain diri. Aku selalu ada buat kamu."
Sunarto memeluk istrinya erat. "Kamu nggak cuma jadi istri, tapi juga penyelamatku. Kalau gini, aku bisa kerja tanpa rasa berat di hati."
Setelah beristirahat sejenak, Sunarto kembali ke pasar dengan semangat baru. Pijatan penuh cinta dari Lastri mengingatkan keduanya bahwa cinta sejati seringkali ditemukan dalam perhatian sederhana yang diberikan dengan tulus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar