"Dua Orang Duda dan Sapi Betina Mereka"
Di sebuah desa kecil yang damai, ada dua lelaki duda yang rumahnya bersebelahan. Mereka adalah Pak Slamet dan Pak Kirno. Dua sahabat ini memiliki hobi unik untuk mengisi waktu luang—merawat sapi betina mereka. Sapi-sapi itu bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga hiburan sehari-hari.
Suatu sore yang cerah, keduanya duduk di teras masing-masing, sibuk memerah susu dari sapi mereka. Pak Slamet dengan Sapiatun, sapi betina yang putih bersih dan montok, sementara Pak Kirno dengan Sapirah, sapi betina yang bugar dan memiliki ambing besar yang sering membuat orang lain iri.
"Met, sapimu kok makin putih, ya? Kayak dimandiin terus tiap hari," ujar Pak Kirno sambil melirik Sapiatun.
Pak Slamet tersenyum bangga, "Iya, Kir. Ini hasil perawatan ekstra. Tiap pagi saya elus-elus dulu sebelum diperah. Sapimu juga enggak kalah, ya. Ambingnya besar sekali. Kalau jalan pasti bikin orang nengok."
Keduanya tertawa. Obrolan pun berlanjut dengan saling bertanya soal nama sapi mereka. "Nama sapimu siapa, Met?" tanya Pak Kirno.
"Sapiatun. Usianya memang sudah paruh baya, tapi produksinya enggak kalah sama sapi muda." jawab Pak Slamet. "Kalau punyamu?"
"Sapirah," jawab Pak Kirno sambil mengelus punggung sapinya. "Cantik, kan? Meski sudah paruh baya, dia masih bugar."
Pak Slamet mengangguk setuju. "Berapa usianya? Punyaku sudah sekitar 40 tahunan."
Pak Kirno mengelus ambing Sapirah sambil berpikir. "Sapirah ini paruh baya, sekitar 40 tahunan juga lah. Tapi walaupun tua, produksinya masih lumayan, lho, Pak. Kalau Sapiatun gimana?"
"Sama, Kir. Sapiatun juga 40-an. Tapi dia disiplin. Kalau saya perah malam hari, hasilnya malah lebih banyak. Mungkin dia suka suasana malam," kata Pak Slamet sambil tertawa kecil.
Pak Kirno tertawa. "Kalau Sapirah, saya harus sering-sering elus-elus dulu. Kalau enggak, dia suka mogok. Tapi kalau sudah nyaman, susunya keluar banyak."
Obrolan terus berlanjut hingga Pak Slamet mendapatkan ide. "Kir, gimana kalau kita saling mencicipi susu sapi masing-masing? Penasaran juga saya rasa susu Sapirah kayak apa."
"Setuju!" jawab Pak Kirno cepat. Keduanya pun menuangkan susu dari ember masing-masing ke dalam gelas dan saling bertukar.
Pak Slamet mencicipi susu Sapirah terlebih dahulu. "Hmm, gurih sih, tapi kurang manis. Sapirah perlu tambahan vitamin mungkin, Kir."
Pak Kirno mencoba susu Sapiatun dan tersenyum lebar. "Yang ini kental banget. Tapi agak asin, Met. Jangan-jangan kebanyakan dikasih garam?" Keduanya tertawa puas sambil terus mencicipi susu masing-masing.
"Met, susunya ini mau kamu buat apa?" tanya Pak Kirno.
"Biasanya saya minum sendiri. Buat kebugaran, Kir. Maklum, duda-duda kayak kita ini kan butuh stamina," jawab Pak Slamet sambil mengedipkan mata. "Kalau kamu?"
"Saya jual di pasar, Met. Tapi kalau kamu mau beli, saya kasih diskon spesial," jawab Pak Kirno sambil mengedipkan mata.
Setelah lama mengobrol, Pak Slamet kembali punya ide. "Kir, gimana kalau kita tukar sapi untuk beberapa hari? Biar mereka coba suasana baru. Siapa tahu jadi lebih produktif."
Pak Kirno mengangguk setuju. "Boleh, Met. Tapi jangan sampai Sapiatun betah di sini. Nanti saya susah balikin Sapirah ke kamu."
Keduanya sepakat menukar sapi malam itu. Mereka melontarkan pujian masing-masing. "Sapirah ini bersih dan montok. Terawat banget," kata Pak Slamet.
"Sapiatun juga luar biasa, Met. Ambingnya besar dan kelihatan selalu siap diperah," balas Pak Kirno.
Malam itu, tukar sapi resmi dilakukan. Sapiatun dipindahkan ke rumah Pak Kirno, sementara Sapirah masuk ke kandang Pak Slamet.
Malamnya, suara-suara dari kedua rumah mulai terdengar. "Sapirah ini beneran hebat, ya. Tenang banget, enggak banyak tingkah. Saya jadi gampang memerahnya," kata Pak Slamet sambil tertawa kecil dari dalam rumahnya.
Pak Kirno menjawab dari rumah sebelah. "Sapiatun juga luar biasa, Met. Dia penurut banget. Enggak ngambek sama sekali. Kayaknya cocok nih kalau sering-sering ditukar."
Tetangga di sebelah rumah hanya bisa mendengar percakapan mereka sambil tersenyum geli. Dua duda itu benar-benar bahagia dengan sapi "baru" mereka.
Pagi harinya, keduanya bertemu di teras masing-masing, membawa ember penuh susu.
"Kir, Sapirah ini benar-benar memuaskan. Rasanya enggak rugi kita tukar sapi," ujar Pak Slamet sambil tertawa lebar.
Pak Kirno mengangguk. "Sapiatun juga enggak kalah hebat, Met. Kalau mau tukar lagi, tinggal bilang aja."
Keduanya tertawa puas. Meski status duda tetap melekat, mereka menemukan cara sederhana untuk mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan melalui sapi betina kesayangan mereka.
Tukar sapi bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga mempererat persahabatan mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar