Selasa, 03 Juni 2025

Cerita Dewasa : Serabi Lempit dan Kisah Malam yang Penuh Liku

 


Serabi Lempit dan Kisah Malam yang Penuh Liku


Petang itu, Pak Bejo duduk di ujung ranjang sambil memandang ke luar jendela. Angin sore yang dingin berhembus pelan, dan aroma khas senja menyeruak di udara.


Di sudut kamar, Bu Bejo dengan penuh kasih dan perhatian datang dengan penuh semangat menawarkan serabi lempitnya untuk petang ini.


“Pak, ini serabi lempit punyaku. Masih hangat, lho. Cocok buat sore-sore begini.” ujar Bu Bejo sambil tersenyum manis. Pak Joko duduk di tepi ranjang dengan wajah sedikit bingung. Di hadapannya, istrinya, Bu Joko,


Pak Joko menatap serabi lempit istrinya itu dengan ragu. Pengalaman sebelumnya membuatnya berpikir dua kali. Tapi, demi menghargai istrinya, ia mulai mencobanya pelan-pelan.


Setelah beberapa menit, Pak Joko malah bangkit dari ranjang. Wajahnya berubah. “Bu, ini kok serabinya terlalu tebal, ya? Kering lagi. Waktu merasakan lipatan serabinya, rasanya kayak dikunyah sandal jepit,” keluhnya sambil mencoba tersenyum tipis.


“Ya ampun, Pak. Udah capek-capek menyenangkan, kok dibilang gitu,” jawab Bu Joko dengan wajah merengut.

Pak Joko mencoba melunakkan suasana. “Bukannya aku nggak suka, Bu. Cuma... ya, aku jadi kepikiran. Mungkin di luar sana ada serabi lempit yang lebih pas buat seleraku.”


“Kalau gitu cari aja sana! Lihat aja kalau nggak ada yang lebih enak dari punyaku,” sahut Bu Joko sambil melipat tangan di dada.


Merasa tertantang, Pak Joko akhirnya memutuskan keluar rumah. Ia menaiki motornya dan meluncur ke kawasan warung pinggir jalan dekat garasi truk besar yang terkenal dengan jajanan serabi lempitnya.


Di sana, Pak Joko mendapati berbagai warung berjejer dengan papan tulisan yang menawarkan serabi lempit berbagai rasa dan bentuk. Ia berjalan pelan, memandangi satu per satu warung, hingga di salah satu warung, seorang ibu-ibu cantik dengan rambut terurai menyapanya, “Mas, cari serabi lempit, ya? Cobain punya saya. Masuk ke dalam, lebih nyaman di kamar.”


Pak Joko, yang tak sabar dan penasaran, langsung masuk ke dalam warung kecil itu. Si ibu menyajikan serabi lempit dengan aroma wangi dan bentuk yang menggoda. Pak Joko mencicipinya dengan harapan besar. Namun, wajahnya berubah lagi setelah beberapa kali jepitan.

“Bu, ini kok terlalu berair, ya? Lembek banget, terus tipis juga. Jadi susah nikmatinnya,” keluh Pak Joko dengan sopan.


“Yah, selera orang beda-beda, Mas. Tapi pelanggan saya biasanya suka,” jawab si ibu sambil tertawa kecil.

Pak Joko membayar dengan berat hati dan melanjutkan pencariannya.


Tak jauh dari sana, ia menemukan warung lain yang dikelola seorang perempuan muda dengan senyum yang penuh percaya diri.


“Mas, cobain serabi lempit saya. Ini spesial, Mas. Langsung bikin puas!” katanya.


Pak Joko, yang semakin penasaran, kembali masuk. Setelah beberapa menit, ia mencoba serabi lempit yang tampak menggoda bentuk luarnya. Namun, lagi-lagi, ia kecewa.


“Waduh, ini kok kelihatan gosong, Mbak? Lipatan serabinya terlalu kering juga. Serabinya malah jadi keras kayak kerupuk,” kata Pak Joko sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Mbak penjual hanya tersenyum simpul. “Oh, mungkin Mas lebih cocok sama yang lain.”


Pak Joko keluar dengan perasaan lelah. Uang di sakunya sudah menipis, tapi belum ada yang memuaskan. Ia memutuskan mencoba satu warung terakhir sebelum menyerah.


Di warung kecil itu, seorang ibu paruh baya menyapanya dengan ramah. “Mas, serabi lempit saya ini sederhana nggak banyak dipoles, tapi banyak yang bilang rasanya pas. Cobain, ya.”

Pak Joko disuguhi serabi lempitnya dan mencicipinya dengan penuh harapan. Kali ini, senyumnya merekah.

“Wah, ini dia! Tebal, empuk, gurih, dan nggak terlalu lembek. Pas banget buat saya,” serunya dengan puas.

Namun, karena terlalu enak, Pak Joko pun melumat serabi itu dalam sekejap saja. Ia merasa senang, tapi ada sedikit penyesalan karena kenikmatannya tak berlangsung lama.


Dalam perjalanan pulang, Pak Joko merenung. “Kayaknya aku terlalu keras sama istriku. Serabi lempit dia memang nggak sempurna, tapi rasanya nggak buruk. Lagian, serabi lempitnya penuh dengan bumbu cinta.”

Setibanya di rumah, ia mendapati Bu Joko masih duduk di ruang tamu dengan wajah cemberut. Pak Joko mendekatinya dan tersenyum.


“Bu, tadi aku keliling cari serabi lempit lain. Ada yang enak, tapi nggak ada yang bikin aku kangen seperti punya kamu. Ternyata aku cuma cocok sama punyamu.”

Bu Joko melirik suaminya dengan mata menyipit. “Halah, bohong kamu, Pak.”


Pak Joko tertawa dan menarik istrinya ke kamar. “Ayolah, Bu. Aku mau coba serabi lempit kamu lagi. Kali ini aku pasti menikmatinya.”


Dengan perasaan lega, Bu Joko menyajikan serabi lempit itu di ranjang mereka. Pak Joko melumatnya penuh semangat. “Ini dia! Tebal, empuk, meski butuh usaha ekstra, tapi aku puas banget!” serunya sambil tertawa.

Suara tawa dan seruan Pak Joko terdengar sampai ke tetangga sebelah. Tetangga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Ah, si Pak Joko dan serabi lempitnya. Ada-ada saja!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar