Kamis, 29 Mei 2025

Cerita Dewasa : Segarnya Buah Kesukaan Bu Sumi


 "Segarnya Buah Kesukaan Bu Sumi"


Siang itu, matahari seakan tidak bersahabat dengan panas yang menggigit. Di teras rumah kecilnya, Bu Sumi, tukang pijat andalan kampung, duduk sambil mengipas wajah dengan tangan. Tiga pelanggan sudah ia pijat pagi itu, dan keringat bercucuran membasahi pelipisnya.


Dari kejauhan, terdengar bunyi khas lonceng sepeda Mang Udin, penjual buah keliling yang selalu penuh semangat. Dengan senyum lebar, Mang Udin menghentikan sepedanya tepat di teras belakang rumah Bu Sumi yang berhadapan langsung dengan kebunnya.


"Wah, Bu Sumi! Panas begini malah duduk-duduk? Kelihatannya haus banget," sapa Mang Udin sambil menurunkan keranjang penuh buah dari sepeda.


Bu Sumi hanya melirik lemas. "Haus sih, Mang. Tapi saya udah nggak ada tenaga buat ngapa-ngapain. Kalau ada buah spesial pesenan saya, cepet kasih deh. Jangan cuma promosi!"


Mang Udin tertawa. "Tenang, Bu. Yang spesial buat Bu Sumi sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Diperas pelan-pelan, nanti keluar air kentalnya yang asin-asam segar. Cocok buat nambah nutrisi siang begini."


Ia mengeluarkan buah lonjong yang tampak keras dari balik celananya. Bu Sumi menatap buah itu dengan alis terangkat. "Mang, ini kok keras banget? Kalau diperas pelan-pelan, airnya keluar nggak?"

"Keluar dong, Bu. Tapi butuh tenaga ekstra. Kalau udah keluar, hasilnya memuaskan," jawab Mang Udin sambil tersenyum penuh arti.


Penasaran, Bu Sumi mengambil buah itu dan mulai memeras dengan kedua tangannya. Tekanannya pelan pada awalnya, namun tak ada yang keluar. Dengan napas berat, ia menambahkan tenaga, menekan lebih keras.


"Aduh, Mang, ini keras banget! Tenaga saya kayaknya habis cuma buat ini," keluh Bu Sumi sambil menyeka peluh di dahinya.


Mang Udin, yang dari tadi memperhatikan dengan senyum kecil, akhirnya berkata, "Kalau Bu Sumi capek, biar saya bantu. Kerja sama biasanya lebih cepat selesai."


Ia mendekat dan membantu memegang buah itu. Keduanya kini memeras dengan tenaga penuh. Perlahan, air buah asin-asam mulai menetes, mengalir jatuh ke tanah. Aroma segar langsung memenuhi udara, membuat Bu Sumi tersenyum lebar.


"Akhirnya keluar juga, Mang! Baunya aja udah segar banget. Rasanya pasti lebih luar biasa," katanya dengan mata berbinar.


Mang Udin mengangguk. "Coba langsung diminum dari buahnya, Bu. Lebih puas begitu, percaya deh."

Dengan semangat, Bu Sumi memiringkan buah itu ke mulutnya dan menyesap langsung. Matanya terpejam saat rasa asin-asam menyentuh lidahnya, segar membasahi tenggorokannya yang kering.


"Aduh, Mang... Segarnya bukan main! Rasanya nyampe ke seluruh badan. Usaha keras saya tadi nggak sia-sia," ujar Bu Sumi sambil menghela napas panjang.


Mang Udin tertawa. "Makanya, Bu, saya selalu bilang: yang diperas dengan usaha, hasilnya pasti bikin puas."


Bu Sumi mengusap mulutnya dan menatap Mang Udin dengan senyum jahil. "Kalau besok-besok saya haus lagi, saya pesan lagi ya, Mang. Tapi air yang keluar harus lebih banyak. Saya nggak keberatan peras sampai puas."


"Siap, Bu. Buah spesial ini selalu tersedia buat Bu Sumi," jawab Mang Udin sambil mengangkat kembali celananya.


Siang itu, tawa dan canda mereka mengusir panas yang menyengat. Bu Sumi kembali ke dalam rumah dengan wajah segar, sementara Mang Udin mengayuh sepedanya dengan semangat baru, sudah siap membawa kebahagiaan sederhana lagi esok hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar