Selasa, 03 Juni 2025

Cerita Dewasa : Apem Lumer untuk Sang Manager dari Pembantu Setia


 "Apem Lumer untuk Sang Manager dari Pembantu Setia"


Pak Darman, seorang manager paruh baya yang mapan, hidup sendirian di rumah mewahnya. Usianya sudah kepala lima, tapi penampilannya tetap rapi, berkharisma, dan selalu wangi.


Setelah bercerai belasan tahun lalu, ia hanya ditemani Bu Ratmi, pembantu rumah tangganya yang setia. Bu Ratmi sudah bekerja selama 20 tahun di rumah itu. Meskipun usianya 45 tahun, Bu Ratmi masih tampak cantik dengan pipi bulat merona dan tubuh yang tetap montok. Apalagi kebaya yang selalu dikenakannya, menjadikan pesonanya sulit diabaikan.


Suatu sore, Pak Darman pulang dengan wajah penuh penat. Hari itu kantornya penuh tekanan: jadwal rapat yang bertumpuk, klien yang rewel, dan bos besar yang suka marah-marah. Ia masuk rumah, melepas dasi, dan duduk di sofa ruang tengah dengan napas berat.


Dari sudut ruangan, terlihat Bu Ratmi sedang menyapu lantai ruang makan dengan lenggak-lenggok santai, seperti model di atas catwalk. Gerakannya membuat kebaya yang dikenakan terlihat pas di tubuhnya. Tak hanya itu, tatapan matanya yang kadang melirik genit ke arah Pak Darman semakin menarik perhatian sang manager.


Pak Darman tersenyum kecil. “Bu Ratmi, malam ini saya ingin sesuatu yang spesial. Tolong siapkan apem lumer isi saus keju, ya. Bawa ke kamar saya nanti malam,” katanya dengan nada datar namun penuh makna.


Bu Ratmi yang memang terbiasa melayani tanpa banyak bertanya langsung menjawab, “Baik, Pak. Saya akan buatkan apem lumer paling enak untuk Bapak.”


Menjelang tengah malam, Bu Ratmi mengetuk pintu kamar Pak Darman sambil membawa piring besar berisi apem lumer yang baru matang. Wangi keju menyeruak di udara.


“Ini apemnya, Pak. Hangat dan lumer seperti yang Bapak minta,” kata Bu Ratmi sambil tersenyum.

Namun, reaksi Pak Darman di luar dugaan. Ia menatap piring itu dengan kesal. “Bu Ratmi, bukan ini maksud saya! Bawa keluar! Saya sudah terlalu capek untuk menjelaskan sekarang.” serunya sambil melambaikan tangan.


Bu Ratmi bingung, tapi tak berani bertanya. Ia pun keluar dengan perasaan tak enak.


Keesokan malamnya, Pak Darman kembali meminta hal yang sama. “Bu Ratmi, bawakan apem lumer ke kamar saya. Pastikan kali ini benar-benar sesuai permintaan saya,” katanya dengan nada lebih tegas.


Bu Ratmi merasa bersalah atas kejadian malam sebelumnya. Ia pun bergegas menyiapkan sepiring besar apem lumer dengan saus keju lebih banyak dan tampilan yang lebih menggoda.

Namun, lagi-lagi, begitu ia masuk ke kamar dan menyajikan apem itu, Pak Darman tampak kecewa. “Astaga, Bu Ratmi! Sampai kapan Anda tidak mengerti? Saya bilang apem lumer, bukan ini!”


Dengan wajah penuh kebingungan, Bu Ratmi kembali membawa keluar piring itu. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang dimaksud dengan apem lumer?


Pagi harinya, Bu Ratmi bertemu dengan Bu Ning, pembantu rumah tetangga, saat membuang sampah di depan pagar. Melihat wajah Bu Ratmi yang murung, Bu Ning bertanya, “Bu Ratmi, kok murung banget? Ada masalah?”


Bu Ratmi menghela napas. “Majikan saya marah-marah terus, Bu. Dua malam ini dia minta saya bawakan apem lumer ke kamarnya, tapi begitu saya bawa, dia malah kesal. Padahal saya sudah buat apem terbaik saya.”

Mendengar cerita itu, Bu Ning mendadak tertawa geli. Wajahnya memerah, dan ia menutup mulutnya dengan tangan.


“Ada apa, Bu Ning? Kok malah ketawa?” tanya Bu Ratmi penasaran.


“Bu Ratmi,” bisik Bu Ning malu-malu. “Maksud majikan Ibu itu bukan apem di piring, tapi apem yang… itu lho…”


Bu Ning menjelaskan dengan berbisik panjang lebar, hingga wajah Bu Ratmi ikut merah padam. Mereka tertawa kecil bersama, sambil merasa geli dengan permintaan aneh majikan masing-masing. “Astaga, Bu Ning! Kalau begitu, kenapa Pak Darman nggak ngomong jelas dari awal?”


“Maklum, Bu Ratmi. Bos-bos itu kadang suka berbasa-basi. Majikan saya juga begitu." kata Bu Ning sambil tertawa kecil. “Tapi dia bilangnya bukan apem lumer. Dia nyebutnya serabi lempit.”


Malam itu, Bu Ratmi memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Ia mengenakan kebaya terbaiknya, menata rambutnya dengan rapi, dan memastikan apemnya dalam kondisi prima—tanpa piring, tanpa keju.


Setelah mengetuk pintu kamar Pak Darman, ia masuk dengan percaya diri. Pak Darman menoleh, dan untuk pertama kalinya, ia terlihat puas.


“Bu Ratmi, akhirnya Anda paham juga,” kata Pak Darman dengan senyum lebar.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara Pak Darman berseru dari dalam kamar, “Wah, apem ini tebal, empuk, dan gurih! Pas banget dengan yang saya mau!”


Bu Ratmi pun tertawa kecil. “Terima kasih, Pak. Saya cuma ingin jadi pembantu yang baik untuk Bapak.”


Sejak malam itu, hubungan Pak Darman dan Bu Ratmi jadi lebih hangat. Pak Darman tak lagi penat sepulang kerja, karena selalu ada apem lumer spesial yang menunggunya di rumah. Bu Ratmi pun merasa bangga karena akhirnya bisa memahami dan melayani keinginan majikannya. Bahkan, Bu Ratmi terlihat lebih semangat bekerja, dengan kebaya yang lebih berwarna dan senyum yang selalu merekah.


Kisah mereka menjadi rahasia kecil di rumah mewah itu, sementara rekan kerjanya hanya bisa menebak-nebak kenapa Pak Darman kini selalu terlihat lebih bahagia dan jarang mengeluh soal pekerjaan. Sedangkan Ratmi semakin rajin berdandan. Hubungan mereka menjadi lebih hangat, meskipun semuanya tetap terjaga rapi tanpa seorang pun tetangga tahu.


Dan setiap kali mereka mendengar tawa dari dalam rumah Pak Darman, tetangga sebelahnya dan Bu Ning hanya bisa saling tersenyum, membatin, “Ah, pasti apem lumer lagi…”


Cerita Dewasa : Burung Conty yang Kesepian

 "Burung Conty yang Kesepian"


Di sebuah desa kecil yang tenang, hiduplah seorang perjaka tua bernama Pak Siman. Walaupun usianya sudah lebih dari setengah abad, Pak Siman tetap semangat menjalani hari-harinya. Tinggal di rumah kecil dengan kebun samping yang subur, Pak Siman menjalani hidupnya sederhana sebagai petani. Namun, ada satu hal yang membuatnya begitu terkenal di kampung itu: burung kesayangannya yang bernama Conty.


Burung Conty bukan burung biasa. Tubuhnya besar, hitam legam, berotot, dan gagah perkasa. Setiap kali Pak Siman membawa Conty keluar rumah—entah ke sawah, ke pasar, atau bahkan saat mandi di sun
gai—semua mata pasti tertuju padanya, terutama mata ibu-ibu tetangga.

Bahkan, saking gagahnya, ibu-ibu tetangga di kampung sering memuji-muji burung itu, bahkan sampai terlihat "gatal" kalau melihat Conty.


"Astaga, Pak Siman. Itu Conty bikin gemes, deh. Gagah banget!" kata Bu Sri, tetangga yang tiap pagi nyelonong ke halaman rumah Pak Siman.


“Iya, Bu. Kok bisa ya burungnya segagah itu? Apalagi kalau dilihat dekat-dekat. Bikin gemes!” timpal Bu Sarmi, yang ikut-ikutan mencuri pandang setiap kali Pak Siman lewat.


"Iya, ya. Pengen pegang, tapi malu!" celetuk Bu Siti, sambil cekikikan dengan ibu-ibu lainnya.

Pak Siman hanya terkekeh, mengelus Conty yang selalu nangkring gagah di bawah perutnya. “Ya begitulah, Bu. Namanya juga burung kesayangan,” ujarnya bangga.


Ibu-ibu pun semakin penasaran dengan Conty. Tiap sore, mereka berdatangan ke rumah Pak Siman, pura-pura ingin meminta cabe atau bertanya soal panen. Padahal, ujung-ujungnya cuma mau melihat aksi gagah Conty yang selalu dibawa ke sana kemari.


Namun, beberapa minggu belakangan, ada yang aneh. Setiap malam, Pak Siman tidak bisa tidur nyenyak. Ia merasa tubuhnya geli-geli dari perut hingga paha, seperti ada yang menggelitik. Paginya, ia bangun dengan wajah bingung. Lebih parahnya lagi, Conty terlihat lemas dan di ujung paruhnya selalu ada bekas muntahan putih.


"Lho, Conty, kamu kenapa? Kok pagi-pagi udah letoy?" gumam Pak Siman heran sambil mengelus kepala burungnya.


Burung Conty cuma diam tidak merespon sentuhan Pak Siman, seperti kehabisan energi. Hal ini berlangsung berhari-hari. Sementara itu, ibu-ibu di kampung justru terlihat semakin gemas. Mereka jadi lebih sering mampir ke rumah Pak Siman, sengaja melihat-lihat si Conty. Mereka lebih sering berdatangan, memuji-muji Conty, bahkan menyentuhnya diam-diam saat Pak Rono lengah.


“Burungnya makin lemes, ya? Jangan-jangan butuh perhatian lebih, Pak Siman,” goda Bu Sri.

Pak Siman mulai bingung. Ibu-ibu ini kok makin aneh?

Hingga suatu pagi yang cerah, suasana kampung mendadak geger. Sekelompok bapak-bapak kampung datang menggeruduk rumah Pak Siman dengan wajah penuh amarah. Pak Karyo, pemimpin rombongan, mengetuk pintu keras-keras.


“Pak Siman! Keluar kau!” teriaknya.


Pak Siman keluar dengan wajah bingung. “Ada apa ini, Pak? Kok ramai-ramai ke rumah saya?”


“Sudah cukup! Kami protes! Burung Conty nggak boleh lagi dipamer-pamerin di kampung ini!” seru Pak Karyo sambil menunjuk-nunjuk Conty yang bertengger lemas di pundak Pak Siman.


“Iya, Pak! Gara-gara Conty, istri-istri kami jadi lupa pulang! Setiap sore mereka nongkrongin Conty di sini!” tambah Pak Bejo.


“Sudah cukup, Pak! Kami nggak terima!” seru Pak Karyo. “Gara-gara burung Conty itu, istri-istri kami jadi lupa pulang, lupa masak, bahkan lupa ngurusin kami!”

“Bener, Pak! Istri saya tiap sore nongkrong di sini! Katanya, mau lihat Conty. Tapi balik-balik malah senyum-senyum sendiri,” tambah Pak Bejo sambil mengusap kepalanya yang botak.


Pak Siman semakin bingung. Burung kesayangannya dianggap sumber masalah? Namun, karena takut keributan makin besar, ia akhirnya setuju. “Baiklah, Pak. Mulai sekarang Conty nggak akan saya bawa keluar rumah lagi.”

Merasa stres dengan situasi yang makin aneh, Pak Siman memutuskan pergi keluar desa mencari udara segar. Ia duduk-duduk di dekat pasar tradisional, seperti biasa membawa Conty di balik celananya.


Saat itulah seorang pria makelar mendekatinya. “Pak, kenapa wajahnya murung? Ada masalah?” tanyanya ramah.


Pak Siman pun menceritakan masalahnya, dari geli-geli saat tidur, Conty yang lemas, hingga protes bapak-bapak tetangga.


Pria makelar mengangguk bijak, lalu berkata, “Pak, masalahnya jelas. Burung Conty itu butuh teman setia, yang bisa menemaninya tidur dengan nyaman.”

“Lho, teman setia? maksudnya?” tanya Pak Siman heran.


“Ada yang cocok untuk Conty. Sapi betina,” jawab si makelar mantap.


Pria makelar itu membawa Pak Siman ke tempat penjualan sapi di pasar. Di sana, ia menunjuk seekor sapi betina berwarna putih, montok, dan memiliki ambing besar.


“Nah, ini dia, Pak. Namanya Sapiawati. Umurnya masih muda, sekitar 20 tahunan. Montok, besar, empuk. Pas buat Conty!” ujarnya.


Pak Siman memandang Sapiawati dengan takjub. “Mantap juga, ya.”

“Kalau nggak percaya, coba dulu, Pak. Ada bilik di belakang buat mengetes kecocokan Conty dengan Sapiawati,” kata si makelar.


Pak Siman membawa Conty dan Sapiawati ke dalam bilik. Tak lama, terdengar suara teriakan dari dalam. “Wah! Conty suka sama Sapiawati! Hangat, besar, dan empuk!” seru Pak Siman penuh semangat.


Pak Siman akhirnya membawa pulang Sapiawati. Setibanya di kampung, ia tak lagi membawa Conty keluar rumah. Burung Conty kini lebih betah di dalam rumah, menghabiskan waktu bersama Sapiawati.


Bahkan, malam-malam Pak Siman kembali nyenyak. Kadang terdengar teriakan puas dari dalam rumah, “Ah, Sapiawati, kamu memang luar biasa!”


Suasana kampung pun kembali tenang. Ibu-ibu tak lagi heboh datang ke rumah Pak Siman, dan bapak-bapak bisa tidur nyenyak tanpa harus curiga.


Kini, burung Conty hidup bahagia bersama Sapiawati, dan Pak Siman pun berkata dengan senyum lebar, “Untung ada Sapiawati. Kalau nggak, Conty bisa makin letoy!”


Dan begitulah, kisah Pak Siman dan burung Conty berakhir dengan damai. Kampung kembali tentram, dan semua orang belajar bahwa terkadang solusi datang dari tempat yang tak disangka-sangka.


Cerita Dewasa : Serabi Lempit dan Kisah Malam yang Penuh Liku

 


Serabi Lempit dan Kisah Malam yang Penuh Liku


Petang itu, Pak Bejo duduk di ujung ranjang sambil memandang ke luar jendela. Angin sore yang dingin berhembus pelan, dan aroma khas senja menyeruak di udara.


Di sudut kamar, Bu Bejo dengan penuh kasih dan perhatian datang dengan penuh semangat menawarkan serabi lempitnya untuk petang ini.


“Pak, ini serabi lempit punyaku. Masih hangat, lho. Cocok buat sore-sore begini.” ujar Bu Bejo sambil tersenyum manis. Pak Joko duduk di tepi ranjang dengan wajah sedikit bingung. Di hadapannya, istrinya, Bu Joko,


Pak Joko menatap serabi lempit istrinya itu dengan ragu. Pengalaman sebelumnya membuatnya berpikir dua kali. Tapi, demi menghargai istrinya, ia mulai mencobanya pelan-pelan.


Setelah beberapa menit, Pak Joko malah bangkit dari ranjang. Wajahnya berubah. “Bu, ini kok serabinya terlalu tebal, ya? Kering lagi. Waktu merasakan lipatan serabinya, rasanya kayak dikunyah sandal jepit,” keluhnya sambil mencoba tersenyum tipis.


“Ya ampun, Pak. Udah capek-capek menyenangkan, kok dibilang gitu,” jawab Bu Joko dengan wajah merengut.

Pak Joko mencoba melunakkan suasana. “Bukannya aku nggak suka, Bu. Cuma... ya, aku jadi kepikiran. Mungkin di luar sana ada serabi lempit yang lebih pas buat seleraku.”


“Kalau gitu cari aja sana! Lihat aja kalau nggak ada yang lebih enak dari punyaku,” sahut Bu Joko sambil melipat tangan di dada.


Merasa tertantang, Pak Joko akhirnya memutuskan keluar rumah. Ia menaiki motornya dan meluncur ke kawasan warung pinggir jalan dekat garasi truk besar yang terkenal dengan jajanan serabi lempitnya.


Di sana, Pak Joko mendapati berbagai warung berjejer dengan papan tulisan yang menawarkan serabi lempit berbagai rasa dan bentuk. Ia berjalan pelan, memandangi satu per satu warung, hingga di salah satu warung, seorang ibu-ibu cantik dengan rambut terurai menyapanya, “Mas, cari serabi lempit, ya? Cobain punya saya. Masuk ke dalam, lebih nyaman di kamar.”


Pak Joko, yang tak sabar dan penasaran, langsung masuk ke dalam warung kecil itu. Si ibu menyajikan serabi lempit dengan aroma wangi dan bentuk yang menggoda. Pak Joko mencicipinya dengan harapan besar. Namun, wajahnya berubah lagi setelah beberapa kali jepitan.

“Bu, ini kok terlalu berair, ya? Lembek banget, terus tipis juga. Jadi susah nikmatinnya,” keluh Pak Joko dengan sopan.


“Yah, selera orang beda-beda, Mas. Tapi pelanggan saya biasanya suka,” jawab si ibu sambil tertawa kecil.

Pak Joko membayar dengan berat hati dan melanjutkan pencariannya.


Tak jauh dari sana, ia menemukan warung lain yang dikelola seorang perempuan muda dengan senyum yang penuh percaya diri.


“Mas, cobain serabi lempit saya. Ini spesial, Mas. Langsung bikin puas!” katanya.


Pak Joko, yang semakin penasaran, kembali masuk. Setelah beberapa menit, ia mencoba serabi lempit yang tampak menggoda bentuk luarnya. Namun, lagi-lagi, ia kecewa.


“Waduh, ini kok kelihatan gosong, Mbak? Lipatan serabinya terlalu kering juga. Serabinya malah jadi keras kayak kerupuk,” kata Pak Joko sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Mbak penjual hanya tersenyum simpul. “Oh, mungkin Mas lebih cocok sama yang lain.”


Pak Joko keluar dengan perasaan lelah. Uang di sakunya sudah menipis, tapi belum ada yang memuaskan. Ia memutuskan mencoba satu warung terakhir sebelum menyerah.


Di warung kecil itu, seorang ibu paruh baya menyapanya dengan ramah. “Mas, serabi lempit saya ini sederhana nggak banyak dipoles, tapi banyak yang bilang rasanya pas. Cobain, ya.”

Pak Joko disuguhi serabi lempitnya dan mencicipinya dengan penuh harapan. Kali ini, senyumnya merekah.

“Wah, ini dia! Tebal, empuk, gurih, dan nggak terlalu lembek. Pas banget buat saya,” serunya dengan puas.

Namun, karena terlalu enak, Pak Joko pun melumat serabi itu dalam sekejap saja. Ia merasa senang, tapi ada sedikit penyesalan karena kenikmatannya tak berlangsung lama.


Dalam perjalanan pulang, Pak Joko merenung. “Kayaknya aku terlalu keras sama istriku. Serabi lempit dia memang nggak sempurna, tapi rasanya nggak buruk. Lagian, serabi lempitnya penuh dengan bumbu cinta.”

Setibanya di rumah, ia mendapati Bu Joko masih duduk di ruang tamu dengan wajah cemberut. Pak Joko mendekatinya dan tersenyum.


“Bu, tadi aku keliling cari serabi lempit lain. Ada yang enak, tapi nggak ada yang bikin aku kangen seperti punya kamu. Ternyata aku cuma cocok sama punyamu.”

Bu Joko melirik suaminya dengan mata menyipit. “Halah, bohong kamu, Pak.”


Pak Joko tertawa dan menarik istrinya ke kamar. “Ayolah, Bu. Aku mau coba serabi lempit kamu lagi. Kali ini aku pasti menikmatinya.”


Dengan perasaan lega, Bu Joko menyajikan serabi lempit itu di ranjang mereka. Pak Joko melumatnya penuh semangat. “Ini dia! Tebal, empuk, meski butuh usaha ekstra, tapi aku puas banget!” serunya sambil tertawa.

Suara tawa dan seruan Pak Joko terdengar sampai ke tetangga sebelah. Tetangga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Ah, si Pak Joko dan serabi lempitnya. Ada-ada saja!”


Minggu, 01 Juni 2025

Cerita Dewasa : Risol Mayo, Apem Lumer dan Kekacauan di Dusun SukaRasa


 "Risol Mayo, Apem Lumer dan Kekacauan di Dusun SukaRasa"


Di suatu dusun kecil yang damai, hiduplah sepasang suami istri bernama Pak Mardi dan Bu Sumi. Mereka memiliki usaha kecil-kecilan, yaitu warung risol mayo yang buka dari sore hingga malam di depan rumah mereka.


Awalnya, risol mayo mereka biasa-biasa saja—berbentuk standar, berbalut roti panir, dan diisi sosis kecil dengan mayonaise secukupnya. Meski enak, dagangan mereka kurang laku.


Pak Mardi mulai resah. Bahkan membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama di atas ranjang.

“Bu, kalau begini terus kita nggak bakal bisa nabung buat beli kulkas baru,” keluh Pak Mardi sambil menghitung receh hasil jualan hari itu.


“Kita harus sabar, Pak. Mungkin besok laku lebih banyak,” jawab Bu Sumi optimis meski dalam hati ikut gusar.


Namun, Pak Mardi tak ingin hanya menunggu keberuntungan. Malam itu, setelah Bu Sumi tidur, ia mulai bereksperimen. Ia menciptakan Risol Mayo Spesial Rahasia. Risol itu tidak seperti biasanya: ukurannya lebih besar dan lonjong, tanpa roti panir, dengan potongan sosis tebal di dalamnya. Tidak hanya itu, Pak Mardi menambahkan banyak mayonaise putih kental hingga meluber saat ditekan-tekan.

Keesokan harinya, Pak Mardi diam-diam menjual risol mayo spesial itu tanpa memberitahu istrinya. Anehnya, risol tersebut langsung laris manis. Namun, ada kejanggalan: yang membeli hanya ibu-ibu.


"Pak Mardi, boleh pesen satu risol mayo spesial lagi?" tanya Bu Nur, seorang pelanggan setia, sambil senyum-senyum genit.


"Tapi ingat, Bu, nggak boleh dibawa pulang ya. Dinikmati di sini aja," tegas Pak Mardi, sambil menunjuk ke arah sebuah bilik kecil di sebelah warungnya.


“Wah, enak banget, Pak! Gurih, puas banget. Mayonaisenya tuh, ya ampun, bikin nggak mau berhenti!” ujar Bu Nur dengan mata berbinar-binar.

Ibu-ibu lain yang mendengar komentar Bu Nur langsung ikut menyerbu warung Pak Mardi. Mereka antre panjang setiap sore. Akibatnya, para ibu-ibu itu jarang pulang ke rumah. Suami mereka mulai kesal karena istri-istri mereka jadi tak perhatian dan malas melayani kebutuhan rumah.


Di sisi lain, Bu Sumi mulai curiga. Ia heran melihat suaminya diam-diam sukses menjual risol mayo spesial yang hanya dipesan ibu-ibu. Ia mulai jengkel, apalagi saat mendengar desas-desus dari para bapak-bapak.

"Bu, gara-gara risol suamimu itu, istri-istri kami sekarang nggak peduli sama kami lagi! Gimana nih?" protes Pak Karto, salah satu warga.


Bu Sumi pun merasa perlu membalas keadaan ini. Ia berpikir keras, hingga akhirnya menemukan ide membuat Apem Tebal Lumer Spesial. Apem itu berbeda dari biasanya, lebih tebal dengan keju cair gurih di tengahnya yang meleleh saat dibuka. Malam itu, ia memulai debut apem spesialnya.


Ternyata, ide itu sukses besar. Para bapak-bapak langsung menyerbu warung Bu Sumi.


“Bu Sumi, apemnya bikin nagih banget! Tebalnya pas, kejunya lumer. Sungguh luar biasa!” puji Pak Karto sambil menyeruput teh manis.


Bu Sumi pun memberikan aturan yang sama seperti suaminya: apem lumer hanya boleh dimakan di tempat, tepatnya di sebuah garasi yang tidak terpakai di rumahnya. Kini giliran para bapak-bapak yang tidak kunjung pulang ke rumah.


Karena risol mayo spesial dan apem lumer ini, suasana dusun menjadi kacau. Para ibu-ibu dan bapak-bapak saling tidak akur. Ibu-ibu sibuk memburu risol mayo di warung Pak Mardi, sementara bapak-bapak betah nongkrong menikmati apem lumer Bu Sumi.


“Lihat tuh, Bu! Ibu juga bikin kacau dusun. Sama aja!” ujar Pak Mardi saat Bu Sumi memprotes risol spesialnya.


“Ya abis gimana? Ini kan karena risol anehmu itu!” sahut Bu Sumi kesal.

Akhirnya, mereka sadar bahwa masalah ini harus diselesaikan. Suami istri itu memutuskan menutup warung sementara. Mereka ingin mencari tahu kenapa kue spesial mereka bisa membuat warga dusun begitu tergila-gila.


Malam itu, di kamar mereka, Pak Mardi dan Bu Sumi berbicara empat mata.


“Pak, aku pengen tahu, apa sih yang bikin risol mayomu itu spesial?” tanya Bu Sumi sambil menatap suaminya tajam.


“Yaudah, kamu juga kasih tahu apem spesialmu itu kenapa bisa bikin para bapak-bapak gila,” balas Pak Mardi.


Akhirnya, mereka saling menunjukkan resep rahasia masing-masing.


“Lho, ini... kan cuma sosis besar sama mayonaise punyamu sendiri Pak?” tanya Bu Sumi sambil tertawa.

“Dan apem lumer kamu itu, ya ampun... itu cuma keju cair biasa yang biasa keluar dari apem punyamu!” sahut Pak Mardi sambil mengusap wajahnya.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak di kamar. “Kenapa ya warga dusun malah mengincar ini, padahal mereka punya hal yang sama di rumah masing-masing?” gumam Pak Mardi.


Dari luar, para bapak-bapak dan ibu-ibu yang menguping percakapan itu saling bertukar pandang. Mereka tersadar bahwa apa yang mereka cari-cari ternyata sudah ada di rumah masing-masing. Mereka pun bubar dan kembali ke rumah.


Sementara itu, dari dalam kamar Pak Mardi dan Bu Sumi, terdengar tawa kecil yang diselingi rayuan. “Bu, ternyata apem lumer kamu lebih gurih kalau dinikmati berdua seperti ini.”


“Pak, risol mayo kamu ternyata juga enak kalau aku yang nikmatin sendiri.” sahut Bu Sumi sambil tertawa geli.


Dusun yang sempat kacau itu akhirnya kembali damai. Pak Mardi dan Bu Sumi pun menutup resep spesial mereka, cukup untuk dinikmati berdua di rumah.